Jangan Berhenti Sebarkan Narasi Moderat Lawan Pergerakan Kelompok Radikal Intoleransi

Narasi kebencian menimbulkan keresahan dan memecah belah persatuan bangsa

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Jangan Berhenti Sebarkan Narasi Moderat Lawan Pergerakan Kelompok Radikal Intoleransi
Pentingnya konsistensi dalam menyebarkan narasi moderat (istimewa)

Narasi-narasi ekstrem mengatasnamakan agama banyak beredar di masyarakat khususnya melalui media sosial. Narasi itu seringkali menimbulkan keresahan dan memecah belah persatuan bangsa.

Namun, di tengah tantangan tersebut, semangat moderasi dan kebersamaan harus semakin diteguhkan melalui berbagai upaya konkret yang dilakukan oleh tokoh agama, akademisi, dan masyarakat luas.

Guru Besar Ilmu Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Zuly Qodir menegaskan bahwa Indonesia sejak awal berdiri telah menyatakan bukan sebagai negara agama. Nilai-nilai keagamaan tetap dihargai dan diakomodasi oleh negara tanpa menghilangkan keberagaman yang ada.

"Bukti nyata dari akomodasi ini dapat dilihat dari perayaan hari-hari besar keagamaan yang diakui oleh negara, serta tidak adanya pelarangan terhadap aktivitas peribadatan, baik yang wajib maupun sunah di seluruh penjuru negeri," ujar Zuly dalam keterangannya, Rabu (28/5).

Zuly mengatakan, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menghargai kebebasan beragama. Prinsip ini sesuai dengan semangat Perjanjian Madinah pada zaman Rasulullah yang memberikan kebebasan kepada setiap pemeluk agama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

"Namun, di tengah upaya menjaga kebersamaan, masih saja muncul kelompok radikal yang menuduh umat Islam moderat sebagai kaum munafik karena dianggap tidak mendukung penerapan syariat secara formal," tutur Zuly.

Selain itu, menurutnya, narasi moderat disebarkan melalui media sosial, media daring, dan YouTube. Narasi itu diharapkan dapat mengimbangi narasi radikal yang terus diproduksi oleh kelompok-kelompok ekstrem.

Zuly menekankan pentingnya konsistensi dalam menyebarkan narasi moderat. "Jangan henti-henti, jangan bosan-bosan, sekalipun hanya sedikit, karena narasi radikal juga terus diproduksi setiap saat," tegasnya.

Zuly juga mengingatkan agar umat tidak perlu meniru aksi-aksi kekerasan atau demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok radikal. Sebaliknya, aksi-aksi kemanusiaan, seperti menyantuni anak yatim, mengadakan pertemuan untuk menyampaikan nilai-nilai moderasi, dan kegiatan sosial lainnya justru lebih efektif dalam memperkuat persatuan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.

Menutup penjelasannya, Zuly memberikan catatan terhadap pentingnya peran organisasi massa seperti Muhammadiyah dan NU. Kedua organisasi ini dikenal sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi dan kebersamaan di tengah masyarakat.

"Secara keseluruhan, upaya kontra narasi terhadap paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme harus dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan semua pihak. Narasi moderat harus didukung oleh aksi nyata dan penyebaran nilai-nilai kebangsaan yang kuat," tandasnya.

Rekomendasi