Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menggaungkan pentingnya literasi. Mereka menyelenggarakan Festival Sastra Santarang (FSS) yang didukung penuh oleh Direktorat Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan. Acara ini mengambil tema krusial "Sastra dan Bencana" untuk merespons realitas alam.
Festival ini bertujuan untuk memperkuat jalinan antara sastra, masyarakat, dan budaya digital di wilayah NTT. FSS menjadi wadah penting dalam merefleksikan berbagai peristiwa bencana yang pernah melanda. Ini termasuk siklon tropis Seroja 2021 dan letusan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Koordinator Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Amanche Franck Oe Ninu, menjelaskan bahwa FSS adalah perayaan literasi. Ini juga merupakan kesempatan berharga untuk mendokumentasikan serta merefleksikan isu-isu aktual. Terutama yang berkaitan dengan bencana alam yang kerap terjadi di NTT.
Advertisement
Advertisement
Sastra sebagai Penjaga Ingatan Kolektif
Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsu Rizal, menegaskan bahwa sastra memiliki peran fundamental. Ia bukan sekadar bentuk seni, melainkan sebuah ruang vital untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat. Peran ini sangat penting, terutama dalam menghadapi berbagai peristiwa bencana.
Menurut Andi, FSS berhasil membawa kembali ingatan kolektif masyarakat yang pernah berhadapan dengan bencana. Contohnya adalah siklon tropis Seroja pada tahun 2021 dan letusan Gunung Lewotobi Laki-laki. Bahkan, banjir bandang terbaru di Kabupaten Nagekeo turut menjadi refleksi.
"Dari berbagai rangkaian peristiwa itu, kita belajar tentang rapuhnya peradaban," ujar Andi Syamsu Rizal. Ia menambahkan, "sekaligus menyadari kekuatan manusia untuk bertahan, merenung, dan kemudian bangkit kembali." Sastra memastikan penderitaan tidak hanya berhenti sebagai catatan statistik.
Advertisement
Lebih lanjut, Andi berharap FSS dapat menjadi wadah efektif. Ini untuk memperkuat ekosistem budaya digital dan memberdayakan komunitas lokal. Kolaborasi lintas sektor juga didorong agar kebudayaan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar lokalnya.
Advertisement
Merespons Realitas Bencana Melalui Karya Sastra
Koordinator Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Amanche Franck Oe Ninu, menjelaskan fokus utama FSS tahun ini. Komunitasnya berupaya merespons realitas bencana alam yang terjadi di NTT. Mereka mendokumentasikan serta merefleksikannya ke dalam perayaan festival sastra.
Dengan mengusung tema "Sastra dan Bencana", FSS 2025 secara aktif mengeksplorasi berbagai peristiwa aktual. Ini juga mencakup permasalahan sosial yang ada di Nusa Tenggara Timur. Tujuannya adalah merawat ingatan serta harapan kolektif masyarakat.
"Semoga melalui diskusi dan karya-karya sastra kita bisa merespons realita yang terjadi dalam kehidupan," kata Amanche. Ia menekankan pentingnya peran sastra dalam memahami dan menghadapi isu-isu kontemporer, termasuk bencana.
Advertisement
Festival ini diramaikan dengan berbagai rangkaian kegiatan edukatif. Di antaranya adalah seminar sastra dan diskusi buku yang melibatkan sekitar 100 peserta. Peserta berasal dari kalangan pelajar hingga beragam komunitas lokal yang antusias.
Advertisement
Rangkaian Kegiatan dan Harapan FSS
- Festival Sastra Santarang juga menjadi ajang peluncuran film dokumenter berjudul “Daba”. Film ini merupakan hasil karya Komunitas Sastra Dusun Flobamora.
- Film “Daba” mengangkat kisah menarik tentang ritus inisiasi anak Jingitiu di Desa Pedarro, Pulau Sabu. Karya ini memperkaya khazanah budaya dan dokumentasi lokal.
- Amanche berharap festival ini mampu menumbuhkan semangat literasi yang kuat di masyarakat. Selain itu, FSS diharapkan dapat mendukung para penulis sastra untuk menghasilkan karya-karya terbaik dan kontekstual.
Sumber: AntaraNews