Slamet Gundul, nama alias yang melekat pada seorang preman dan perampok legendaris Indonesia. Slamet adalah sosok yang menggemparkan Pulau Jawa pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Dia dikenal karena kelicikannya menghindari kejaran polisi, ia dijuluki "licin bak belut" dan bahkan mendapat perintah penangkapan "hidup atau mati" dari Direktur Reserse Mabes Polri Koesparmono Irsan pada 1989.
Slamet Gundul berasal dari Malang, Jawa Timur, yang namanya melegenda di dunia kriminal Indonesia pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Selama delapan tahun, ia beraksi merampok, khususnya menyasar nasabah bank di berbagai kota besar Pulau Jawa, termasuk Jakarta dan Semarang.
Keberhasilannya merampok puluhan kali dan lolos dari kejaran polisi membuatnya dikenal sebagai perampok ulung yang licin dan cerdas. Bayangkan, pada tahun 1989 saja, ia berhasil meraup Rp 159,5 juta, jumlah yang fantastis jika dikonversi ke nilai rupiah saat ini. Uniknya, sepanjang aksinya, Slamet Gundul tidak pernah melukai korbannya.
Meskipun dikenal sebagai buronan kelas kakap, penampilan Slamet Gundul sangat bertolak belakang dengan citra penjahat yang sangar. Ia memiliki wajah polos dengan pipi tembam, hidung lebar, tanpa lipatan kelopak mata, dan senyum yang selalu mengembang.
Hal ini semakin menambah aura misterius dan daya tarik sosoknya di mata publik. Kemampuannya menghindari polisi membuatnya menjadi legenda, bahkan pernah ditangkap namun berhasil meloloskan diri. Akhirnya, petualangannya berakhir pada tahun 1991 ketika ia berhasil ditangkap di Surabaya.
Setelah mendekam di penjara Cipinang, Slamet Gundul justru semakin melegenda. Ia dihormati dan ditakuti oleh sesama narapidana bahkan sipir penjara. Kisahnya menjadi perbincangan, menyerupai tokoh-tokoh karismatik dalam film mafia seperti di film Godfather.
Advertisement
Misteri di Balik Aksinya: 55 Perampokan di Pulau Jawa
Selama beraksi, Slamet Gundul tercatat melakukan sedikitnya 55 perampokan di berbagai kota besar di Pulau Jawa. Ia dikenal sangat lihai dalam merencanakan aksinya, memilih target dengan cermat, dan selalu berhasil meloloskan diri. Keberaniannya yang luar biasa dalam menghadapi polisi dan kemampuannya beradaptasi dengan situasi membuatnya sulit ditangkap. Ia seperti hantu yang selalu berhasil menghilang setelah melakukan aksinya.
Saat tinggal di Semarang, Slamet memulai aksinya dengan merampok bank. Tak hanya itu, dia juga mengincar para nasabah bank, toko emas, dan orang-orang Tionghoa. Sepanjang tahun 1989, total dia mendapatkan hasil Rp159,5 juta (sekarang setara miliaran rupiah) antara lain Rp23 juta dari juragan Tembakau dari Kendal, Rp40 juta dari juragan ikan, Rp34 juta dari Unissula Semarang, Rp28 juta dari nasabah bank BCA cabang Peterongan Semarang, dan Rp34 juta dari perusahaan jamu Nyonya Meneer.
Dalam aksinya itu, dia terkadang harus terlibat baku tembak dengan polisi. Pernah suatu hari dia terlibat baku tembak dengan anggota kepolisian saat tengah beraksi di Klaten, Jawa Tengah. Walaupun dua anak buahnya berhasil tertembak dan kemudian ditangkap, Slamet berhasil melarikan diri dengan mengacung-acungkan sebuah granat. Karena inilah, polisi hanya bisa menahan diri demi tidak menciptakan kerusakan yang lebih parah karena granat yang dibawa Slamet.
Walaupun sering melakukan tindakan kriminal, namun Slamet selalu bisa lolos dari sergapan polisi. Biasanya dia lari ke permukiman padat penduduk di dekat tempat tinggalnya sambil menebar uang rampokan ke jalanan sehingga para warga berebut uang dan menghalangi jalan polisi untuk mengejarnya.Tak hanya itu, konon Slamet juga sering membagi uang hasilnya merampok kepada tetangganya yang miskin. Karena inilah warga Barutikung Semarang selalu melindungi Slamet dari kejaran polisi serta mendapat julukan Robin Hood oleh para tetangganya.
Tidak banyak detail yang terungkap secara resmi tentang metode perampokannya. Namun, kisah-kisah yang beredar menggambarkan Slamet Gundul sebagai perampok yang cerdik dan terencana. Ia mungkin memanfaatkan celah keamanan yang ada, atau mungkin memiliki jaringan yang membantunya dalam merencanakan dan menjalankan aksinya. Keberhasilannya yang berulang kali menunjukkan keahliannya yang luar biasa dalam menghindari penangkapan.
Meskipun dikenal sebagai perampok kelas kakap, Slamet Gundul selalu menghindari kekerasan. Ia tidak pernah melukai korbannya, sebuah fakta yang menambah aura misterius pada sosoknya. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ia begitu dihormati dan ditakuti di dalam penjara, karena ia dikenal sebagai penjahat yang memiliki kode etik.
Advertisement
Asal Usul Julukan "Slamet Gundul" dan Akhir Kisahnya
Julukan "Slamet Gundul" mungkin berasal dari penampilannya yang unik. Kata "gundul" dalam bahasa Jawa bisa berarti botak atau tanpa rambut, meskipun tidak ada informasi pasti apakah Slamet Gundul benar-benar botak atau hanya memiliki rambut yang tipis. Namun, julukan ini melekat padanya dan menjadi bagian dari legendanya.
Setelah ditangkap di Surabaya pada tahun 1991, Slamet Gundul menjalani hukumannya di penjara Cipinang. Meskipun dipenjara, ia tetap menjadi sosok yang disegani dan ditakuti. Kisah-kisah tentang keberanian dan kecerdasannya dalam menjalankan aksinya, serta sikapnya yang tenang dan terhormat di dalam penjara, terus beredar di kalangan narapidana dan sipir. Hukuman yang diterimanya tidak pernah dipublikasikan secara luas, namun kisah hidupnya tetap menjadi legenda yang menarik untuk dikaji.
Kisah Slamet Gundul menjadi bukti bahwa dunia kriminalitas juga memiliki tokoh-tokoh yang unik dan menarik. Meskipun ia adalah seorang penjahat, kisahnya tetap memikat dan menjadi bagian dari sejarah kriminal Indonesia. Ia meninggalkan jejak yang tak terlupakan, bukan hanya karena aksinya yang licin, tetapi juga karena karisma dan respek yang ia peroleh bahkan di balik jeruji besi.
Meskipun kisah Slamet Gundul penuh dengan misteri, ia tetap menjadi bagian dari sejarah kriminal Indonesia. Kisahnya mengingatkan kita akan pentingnya penegakan hukum dan bahaya kejahatan, sekaligus menunjukkan bahwa bahkan di dunia kriminal, terdapat sosok-sosok yang unik dan penuh daya tarik.