Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi santai pro dan kontra yang muncul terkait kebijakannya menempatkan anak-anak usia sekolah yang terlibat kenakalan remaja ke barak militer.
Dedi Mulyadi menyebut. rencana tersebut merupakan bagian dari program pendidikan karakter yang ia inisiasi. Meskipun banyak kritik yang muncul, Dedi menegaskan tidak akan mundur dan yang dilakukannya demi kepentingan bangsa.
"Setiap perbuatan yang bertujuan demi kebaikan dan kebangsaan, nasionalisme di Indonesia itu sudah terbiasa," ujarnya dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71, yang dikutip pada Senin, (5/5).
Dedi mengakui sudah biasa menghadapi kritik terkait kebijakannya. Dia tetap pada keyakinannya menjalani kebijakan itu
"Anda kan tahu saya dari dulu jadi bupati Purwakarta. Berbagai hal saya hadapi, berbagai tuduhan, sangkaan, nyinyir, kebencian. Kan gak ada problem, tetapi pada akhirnya orang merasakan," tuturnya.
Dedi menambahkan, seorang pemimpin harus teguh dalam menjalankan pemikiran dan gagasannya. "Kalau jadi pemimpin itu harus seteguh batu karang, kalau ada yang menjadi pemikiran dan gagasannya itu adalah demi kebaikan bangsa, jangan pernah menyerah," ujarnya.
Advertisement
Dilaksanakan Enam Bulan
Sebelumnya, Dedi menyatakan bahwa ada rencana untuk membina siswa di barak militer demi mendapatkan pendidikan karakter, yang akan dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Polri. Menurut Dedi, pelaksanaan program ini tidak akan dilakukan secara serentak di semua daerah, melainkan secara bertahap, dimulai dari daerah-daerah yang dianggap rawan.
"Tidak harus langsung di 27 kabupaten/kota. Kita mulai dari daerah yang siap dan dianggap rawan terlebih dahulu, lalu bertahap," ungkap Dedi seperti yang dilansir dari Antara pada Minggu, 27 April 2025.
Selanjutnya, Politikus Gerindra itu menjelaskan bahwa siswa-siswa yang terlibat dalam program ini akan mengikuti pendidikan di sekitar 30 hingga 40 barak khusus yang telah disiapkan oleh TNI. Dedi Mulyadi juga mengungkapkan bahwa para siswa akan menjalani pendidikan selama enam bulan di barak militer. Ia memaparkan kriteria siswa yang dianggap bermasalah dan memerlukan pembinaan di barak militer.
"Tukang tawuran, tukang mabok, tukang main mobile legend, yang kalau malam kemudian tidurnya tidak mau sore," kata Dedi Mulyadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa, 29 April 2025.
Lebih lanjut, Dedi menambahkan bahwa siswa yang bermasalah ini sering kali melawan orang tua, mengancam, membuat keributan di sekolah, dan bolos terus-menerus.
"Dari rumah berangkat ke sekolah, ke sekolah enggak sampai. Kan kita semua dulu pernah gitu ya," sambungnya, menekankan perlunya perhatian lebih terhadap perilaku siswa-siswa tersebut.