109 KK Hidup Berdampingan dengan Bau Busuk Sampah di Jantung Kota Padang

Ironisnya, kelurahan ini lokasinya paling dekat dengan kawasan pariwisata kebanggaan Kota Padang, yaitu Pantai Padang. Di sana masyarakat hidup berdampingan dengan sampah di selokan dan danau cimpago yang telah mengeluarkan bau tidak sedap.

Lisa Septri Melina
Oleh Lisa Septri Melina - Reporter
109 KK Hidup Berdampingan dengan Bau Busuk Sampah di Jantung Kota Padang
Bau Busuk Sampah di Jantung Kota Padang. ©2023 Merdeka.com

Di balik megah jantungnya Kota Padang, Sumatera Barat yang diemban Wali Kota Hendri Septa itu rupanya mengisahkan pilu di tengah rampungnya pembangunan gedung dan hotel bertingkat di pusat kota.

Gang sempit di tepi selokan yang membentang sepanjang kurang lebih 100 meter di RT 03, RW 06, Kelurahan Purus, Kecamatan Padang Barat yang kemudian membentang hingga ke danau cimpago yang dibangun Pemko menjadi saksi bisu bahwa persoalan sampah tak kunjung terurai di Ibu Kota Sumatera Barat itu.

Ironisnya, kelurahan ini lokasinya paling dekat dengan kawasan pariwisata kebanggaan Kota Padang, yaitu Pantai Padang. Di sana masyarakat hidup berdampingan dengan sampah di selokan dan danau cimpago yang telah mengeluarkan bau tidak sedap.

Pantauan merdeka.com pada Minggu, (30/4) sore, perumahan ini berada di tengah-tengah selokan hingga danau cimpago. Selokan dan danau cimpago ini aliran air terhubung ke sungai di banda kali dan bermuara di laut.

Air di selokan itu sudah berubah warna akibat limbah dan sampah yang telah mengeluarkan bau menyengat, begitu juga dengan danau cimpago. Umumnya, sampah didominasi oleh sampah plastik. Tampak, rumah yang hanya berjarak sekitar satu setengah meter dari selokan dan danau.

Salah satu warga yang rumahnya hanya berjarak sekitar satu setengah meter dari selokan Yati (62) mengaku, hidup berdampingan dengan bau busuk air di selokan sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun. "Kita sudah terbiasa, bagaimana mau pindah, uang tidak ada," sebutnya.

Yati bercerita, bau busuk dari air di selokan disebabkan karena pembuangan kotoran timbal balik dari rumah warga hingga sampah dan airnya tidak mengalir. "Biasanya ada pengerukan, namun sekarang sudah tidak lagi," sebutnya.

Sambungnya, bau yang paling busuk itu terjadi ketika air selokan mengering, bau itu sampai tercium ke dalam rumah meskipun pintu sudah ditutup rapat.

"Kalau air mengering itu baunya busuk sekali, kita tidak betah duduk di pinggir selokan ini," tuturnya ketika duduk di pinggir selokan bersama warga lainnya pada Minggu, (30/4) sore.

Katanya, meskipun hidup berdampingan dengan bau busuk sejauh ini tidak ada masyarakat yang terjangkit muntaber ataupun penyakit lainnya.

Sementara itu, salah satu warga di sekitar danau cimpago, Ida (64) mengatakan, sampah di danau cimpago sudah mengeluarkan bau menyengat beberapa bulan belakangan.

"Sampah itu sudah mengeluarkan bau menyengat, tahun kemarin masih ada petugas kebersihan, kalau sekarang tidak tampak lagi. Jika tiba baunya air itu sampai berbau bangkai anjing," tuturnya.

Katanya, sampah yang bertebaran di danau cimpago berasal dari sampah pedagang di Pantai Padang hingga beberapa masyarakat sekitar lokasi. "Kebanyakan sampah itu berasal dari pedagang, kalau kita di sini sampahnya kita bakar hingga ada pengangkut sampah yang diupah datang ke rumah," sambungnya.

Katanya, sebelum menjadi danau cimpago yang dibangun Pemko Padang, tempat ini dahulunya merupakan rawa-rawa. Ida juga mengatakan, awal rampungnya pembangunan danau kalau itu sempat menjadi objek wisata yang dikunjungi turis. "Dahulu sempat menjadi objek wisata, kalau sekarang kita duduk di depan rumah saja sudah bau," sebutnya.

Sambungnya, karena jernihnya air awal pembangunan dahulu pemko padang ada menabur benih ikan di sini. "Kita berharap ada perhatian pemerintah kembali," sebutnya.

"Di RT 03, RW 03 setidaknya ada 109 Kepala Keluarga dengan kurang lebih 52 rumah," tutur Ketua RT O3 Wawan Hirawan, Senin, (1/5).

Sambungnya, selokan itu biasanya ada dibersihkan dan pengerukan namun beberapa belakang tidak ada. Katanya, alian air itu juga kiriman dari RW lainnya dan dan ujung di di RT 03, RW 06.

"Air dari selokan itu mengarahkan ke banda kali dan bermuara di laut, itu juga ada penyaringan sampahnya, tetapi akhir-akhir ini juga jarang dibuka jadi air tidak mengalir," katanya.

Sementara itu, untuk sampah dan keruhnya air di danau cimpago kebanyakan berasal dari pedagang di kawasan cimpago tersebut.

"Masyarakat kita juga ada, tetapi hanya sebagian. Saya sudah berulang kali mengingatkan untuk tidak membuang sampah ke danau, tetapi hal itu tidak diindahkan pedagang," sebutnya.

Katanya, di danau cimpago dahulunya ada pembersihan dari Pemko Padang tetapi akhir-akhir ini sudah tidak tampak lagi petugas.

"Kotornya air itu baru setahun ini, petugasnya juga tidak kelihatan entah dimana. Petugas tidak membuka pintu aliran airnya, jadi akhirnya air tidak mengalir," sambungnya yang juga sebagai Ketua Komunitas Pedulu Sunggai itu.

"Ketika telah keluar bau menyengat, saya suruh buka pintu air kepada petugasnya agar airnya mengalir. Tetapi terkadang sudah diingatkan ada juga petugas yang berdalih dengan berbagai alasan," katanya.

at lain," tuturnya.

Menyoal hal itu, Pemerintah Kota Padang melalui Kepala Bidang Pengelolahan Sampah dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup, Saat mengatakan, untuk aliran di selokan itu tidak ada petugas kebersihannya dari Pemko, yang ada hanya danau cimpago.

"Saat ini perahu satu-satunya yang digunakan untuk membersihkan sampah di danau cimpago itu rusak. Belum diperbaiki, saat ini pembersihan dilakukan secara manual tetapi hanya dibisa dilakukan dari pinggir saja," kata dihubungi merdeka.com.

Sambungnya, pihaknya akan segera memperbaiki perahu tersebut sehingga permasalahan sampah di Kota Padang dapat terurai. Tetapi kapan akan rampung perbaikan perahu tersebut ia juga belum bisa memastikan.

"Perbaikan kita usahakan secepatnya. Kita saat ini memang kekurangan perahu untuk membersihkan sampah, yang satunya lagi sudah digunakan di tempat lain," tuturnya.

Rekomendasi