Jumlah Puskesmas di Jabar Tak Ideal, Ridwan Kamil Aktifkan Posyandu Plus Plus

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui jumlah puskesmas di wilayahnya tidak ideal. Untuk mengatasinya, ia memanfaatkan posyandu dan anggota PKK agar bisa melayani pemeriksaan kesehatan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jumlah Puskesmas di Jabar Tak Ideal, Ridwan Kamil Aktifkan Posyandu Plus Plus
Ridwan Kamil. ©2022 Merdeka.com/humas pemprov Jabar

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui jumlah puskesmas di wilayahnya tidak ideal. Untuk mengatasinya, ia memanfaatkan posyandu dan anggota PKK agar bisa melayani pemeriksaan kesehatan.

Ridwan Kamil mengatakan, tidak idealnya puskesmas terjadi di semua wilayah Indonesia. Di Jabar, jumlahnya hanya ada sekira 1.000 puskesmas.

"Rasio (jumlah puskesmas) Indonesia itu tidak mencukupi. Maka Kemenkes memutuskan menggunakan posyandu yang jumlahnya lebih banyak berlipat-lipat menjadi posyandu plus plus yang tugasnya seperti puskesmas," kata dia usai Fakorda PKK Jabar di Kota Bandung, Selasa (14/3).

"Jabar idealnya ada 3.000-an Puskesmas. Kami kan hanya punya 1.000-an," ia melanjutkan.

Keberadaan posyandu dan ibu PKK dimaksimalkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Jangkauannya pun diharapkan bisa lebih luas.

"Kita andalkan konsep baru namanya Posyandu Plus Plus. Posyandu versi baru yang bertindak bisa mengecek kesehatan warga," terang dia.

Di sisi lain, pria yang akrab disapa Emil ini berharap PKK bisa membantu menginformasikan capaian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Caranya dengan membuat konten yang diunggah di media sosial hingga aplikasi pesan singkat. Materi informasinya bisa berisi penghargaan atau hasil kinerja yang sudah dilakukan di masa pemerintahannya.

Ini pun menjadi ujian dan upaya menyeimbangkan informasi viral di media sosial yang cenderung tak bermanfaat dengan informasi yang baik.

"Tim penggeraknya akan berakhir (tahun ini). Kuncinya memberitakan, bikin konten ada 500 pencapaian Jabar, ada ekonomi terbaik, penanganan stunting terbaik, PNS terbaik, penurunan kemiskinan terbaik dan lain-lain," imbuh dia.

"Ya gimana memberitakan pencapaian ke masyarakat, yang viral kan berita negatif. Sekarang pertanyaannya bisakah memviralkan pencapaian berita positif. Ini kan tahun terakhir, sehingga memastikan masyarakat selama lima tahun tahu pencapaian apa saja," pungkasnya.

Rekomendasi