Mereka adalah suku anak dalam. Dikenal dengan sebutan orang rimba. Di pedalaman hutan yang dikira selalu mencekam. Ternyata ada cerita bahagia dari kehidupan mereka.
Anak-anak rimba ini tinggal di Desa Rejosari, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Tepatnya di perkebunan sawit milik warga setepat. Total, ada sembilan kepala keluarga bermukim di sana. Lahan warga dimanfaatkan untuk bertahan. Karena di dalam hutan rimba tidak ada tempat hidup selayaknya.
Merdeka.com berkesempatan melihat lebih dekat aktivitas mereka. Mendatangi sudung atau hunian orang rimba. Bentuknya seperti gubuk. Hanya menggunakan terpal sebagai atap rumah dan kayu kecil sebagai lantai tempat tidur atau istirahat.
Advertisement
Hidup Menyatu dengan Alam
Berbeda dengan orang kota. Anak-anak rimba belajar hidup menyatu dengan alam. Apa yang ada di sekelilingnya mereka nikmati. Bahagia dengan cara yang sangat sederhana.
Induk lereh kelompok orang rimba Temenggung Minan mengatakan, mereka kini tinggal di perkebunan sawit milik warga setempat. Mereka membuat sudung sebagai tempat tinggal kelompok temenggung minan.
Jangan tanya soal nyaman atau tidak. Bagi mereka, terpenting adalah tempat merebahkan diri saat lelah melanda.
Advertisement
Sulit Dapatkan Air Bersih
Dia juga bercerita. Meski tinggal di pedalaman hutan, persoalan air bersih masih juga ada. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka terpaksa mencari parit di sekitar kebun sawit.
"Sedangkan untuk kebutuhan air bersih kami juga mencari sumber air yang ada di parit dekat perkebunan sawit. Itu paling jauh sekitar 1 kilometer dari sudung kami," katanya, pada Kamis (2/3).
Meski kualitas air jauh dari kata layak, mereka tak punya pilihan lain. Dari pada harus mati kehausan.
"Kami ambil air di rawa-rawa di bawah itu lah. Tidak ada sumber air lagi. Ya banyaklah bekas pupuk atau pestisida yang masuk ke situ. Tapi kami dak punya sumber air lain lagi," katanya.
Tak cuma soal air. Orang rimba juga mengeluhkan pelayanan kesehatan. Mereka hanya berkesempatan mengecek kesehatan satu bulan sekali. Itu pun hanya posyandu. Tetapi apapun itu mereka syukuri.
Advertisement
Anak-Anak Banyak Tak Sekolah
Induk lereh bercerita bagaimana anak-anak rimba sehari-harinya beraktivitas.
Katanya, dari sebelas anak hanya satu orang anak rimba dari kelompok temenggung minan yang bersekolah.
"Di kelompok kami hanya satu orang yang sekolah dari sebanyak anak di kelompok kami itu anak temenggung," katanya.
Advertisement
Kata Kepala Desa
Terpisah, Kepala Desa Rejosari Yuli Widodo membenarkan orang rimba dari Kelompok Temenggung Minan berjumlah 9 Kepala Keluarga. Dipastikan, pemerintah desa tetap membuat program untuk memenuhi gizi mereka. Meskipun diakuinya, program itu tidak bisa berjalan rutin.
Selain program makanan bergizi, dia juga mengklaim perangkat desa juga memberikan pelayanan kesehatan dengan perbantuan posyandu.
"Kita kasih mereka vitamin dan makan-makanan bergizi saat ada kegiatan posyandu PKK," jelasnya.
Menurutnya, mayoritas orang rimba laki-laki bekerja berburu dan mengumpulkan brondolan sawit. Sedangkan kalau perempuannya, hanya berada di sudung atau di rumah.
Jika ingin mengenal lebih dekat dengan anak rimba Kelompok Temenggung Minan, maka datanglah ke Desa Rejosari, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Butuh waktu enam jam perjalanan untuk sampai ke desa itu jika perjalanan di mulai dari Jambi.
Advertisement