Lima Warga Garut Positif Difteri, Puluhan Lainnya Masih Menunggu Hasil Laboratorium

Dinas Kesehatan Kabupaten Garut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel puluhan warga yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif difteri. Sampai Rabu (22/2), warga yang dipastikan terkonfirmasi positif difteri berjumlah lima orang.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
Lima Warga Garut Positif Difteri, Puluhan Lainnya Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Imunisasi anak sekolah menjalani vaksinasi difteri. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Dinas Kesehatan Kabupaten Garut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel puluhan warga yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif difteri. Sampai Rabu (22/2), warga yang dipastikan terkonfirmasi positif difteri berjumlah lima orang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani mengatakan bahwa sebelumnya dua warga yang terkonfirmasi positif difteri sampai Selasa (21/2). Keduanya adalah anak berusia 7 tahun dan remaja 19 tahun.

"Hari ini kami menerima laporan dari Labkesda Provinsi Jawa Barat ada penambahan tiga orang yang terkonfirmasi positif. Jadi jumlah sampai hari ini lima orang,” katanya.

Dinas Kesehatan Garut, diakui Leli, sudah mengambil 72 sampel warga untuk diperiksa di laboratorium. Mereka yang diambil sampelnya adalah kontak erat dengan penderita difteri. Hasil pemeriksaannya belum keluar.

"Selain yang terkonfirmasi positif, di RSUD dr Slamet juga ada tiga orang yang saat ini dirawat. Ada tiga orang, itu pun bukan positif difteri namun dinyatakan suspek. Sekarang kami sedang fokus mengawasi yang kontak erat," ungkapnya.

Sebelumnya, difteri menjangkiti warga di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, terdapat 73 orang warga yang diduga difteri hingga Minggu (19/2), dengan mayoritas penderita adalah anak-anak.

Leli mengatakan bahwa kasus difteri muncul dalam empat pekan terakhir. Dari total 73 kasus tersebut, terdapat 4 kasus observasi difteri, 4 suspek difteri, 2 kasus konfirmasi positif difteri, 55 kontak erat, dan 7 orang meninggal dunia tanpa catatan medis yang lengkap.

"Dari tujuh orang tersebut, enam orang berusia anak-anak dan satu orang dewasa. Namun, kami belum dapat memastikan apakah penyebab kematian tersebut adalah difteri, karena belum sempat diperiksa melalui pemeriksaan laboratorium," kata Leli, Senin (20/2).
Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri setelah puluhan warganya terinfeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penetapan status tersebut dilakukan sampai Oktober 2023.

"Difteri ini sudah dinyatakan KLB, jadi saya sudah tanda tangani bahwa difteri di Kabupaten Garut dinyatakan kejadian luar biasa," kata Bupati Garut Rudy Gunawan, Selasa (21/2).

Rudy mengungkapkan bahwa merebaknya kasus difteri di Garut itu salah satu penyebabnya adalah karena tidak lengkap saat imunisasi. "Dan ada yang meninggal dunia itu diakibatkan bahwa mereka itu tidak mendapatkan vaksin sejak awal. Jadi daerah itu punya kepercayaan tidak perlu divaksin, harusnya kan dari awal, (jadi) tidak lengkap," ungkapnya.

Rekomendasi