Cerita Mahfud MD Tanggal 8-11 Juli Sempat Jadi Misteri Pembunuhan Brigadir J

Kemudian, Mahfud menyampaikan pada tanggal 13 Juli dirinya wawancara dengan salah satu stasiun televisi, dia menyebut bahwa yang diumumkan Polri atas kasus kematian Brigadir J di rumah Ferdy Sambo tidak masuk akal.

Alma Fikhasari
Oleh Alma Fikhasari - Reporter
Cerita Mahfud MD Tanggal 8-11 Juli Sempat Jadi Misteri Pembunuhan Brigadir J
Menkopolhukam Mahfud MD. ©2021 Merdeka.com

Ketua Kompolnas Mahfud MD memaparkan cerita pembunuhan Brigadir J yang melibatkan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Dia mengaku, Kompolnas mempunyai dua sikap dan merasa ada kejanggalan dalam kasus tersebut.

"Jadi ketika peristiwa diumumkan tanggal 11 Juli itu Kompolnas langsung bergerak, saya berada di Mekkah langsung bergerak ke TKP (rumah dinas Ferdy Sambo) dan Pak Benny mendapat penjelasan bahwa terjadi tembak menembak dan ada korban dan yang menembak Bharada E seorang ahli tembak dan korban Brigadir J," kata Mahfud, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR, di Senayan, Jakarta, Senin (22/8).

Kemudian, Mahfud menyampaikan pada tanggal 13 Juli dirinya wawancara dengan salah satu stasiun televisi, dia menyebut bahwa yang diumumkan Polri atas kasus kematian Brigadir J di rumah Ferdy Sambo tidak masuk akal.

"Lantaran dari fakta ke fakta, kaitan sebab akibat enggak jelas. Kalau hukum pidana harus jelas ada ini dan ini dan seterusnya. Makanya saya bilang ini enggak masuk akal dan sangat meragukan," paparnya.

Akan tetapi, dia mendapatkan informasi dari Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto dan lainnya meyakini bahwa skenario yang disampaikan pihak Mabes Polri benar.

Namun, karena merasa ada kejanggalan setelah Mahfud tiba di Indonesia, dia pun memanggil seluruh anggota Kompolnas melalui video conference. Pertemuan tersebut untuk membahas temuan dari kasus penembakan Brigadir J.

"Skenario 17 Juli masih skenario pertama, bahwa terjadi tembak menembak. Sementara sudah beredar di luar, ini Kompolnas dan Komnas HAM tidak sensitif isu dari luar," ungkap Mahfud.

Akhirnya, dia kembali memanggil Benny Mamoto bersama Komisioner Kompolnas, Pongky Indarti pada tanggal 24 Juli di rumah kediamannya. Dirinya menyebutkan bahwa kembali mempertanyakan soal hasil yang di sampaikan oleh pihak Mabes apakah itu benar atau tidak.

"Pak gimana perkembangannya? Anda yakin? Iya pak itu dapat dari lapangan, kami dapat dari lapangan. Oke," kata Mahfud meniru percakapannya dengan Benny.

Pada saat pertemuan dengan Benny dan Pongky, dirinya pun mengatakan bahwa mendengar isu dari luar bahwa Kompolnas dan Komnas HAM sudah di setir oleh sebuah skenario. Dia menyebut, ada seseorang yang dipanggil dan diarahkan untuk menjabarkan skenario yang telah dirancang.

Dalam pertemuan tersebut, kata Mahfud, Pongky mengaku bahwa dirinya lah yang bertemu dengan Ferdy Sambo. Yang mana, Ferdy Sambo mengatakan bahwa istirnya dilecehkan oleh Brigadir J.

"Itu saya pak saya yang dipanggil oleh Pak Ferdy Sambo, dia hanya nangis saja mba Poengky saya ini hanya di zolimi istri saya dilecehkan kalau saya di sana saya tembak sendiri dia kata mba Pongky," ungkap Mahfud.

Ternyata, yang bertemu dengan Ferdy Sambo tak hanya Pongky, namun juga
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam juga bertemu dengan Ferdy Sambo.

Chorul Anam pun mengaku, dari pertemuannya dengan Sambo kala itu, Sambo menyampaikan bahwa istrinya mendapatkan pelecehan seksual oleh Brigadir J, sehingga terjadilah tembak-menembak.

Meski sudah mendapatkan informasi yang sama, Mahfud tetap merasa ada yang janggal dari kasus tersebut. Sampai akhirnya Bharada E ditetapkan sebagai tersangka atas kematian Brigadir J.

"Lalu saya cari ke sumber luar, saya panggil Kompolnas rapat lagi dan balik skenario coba masuk ke penembakan, pembunuhan kita terus koordinasi dengan Kapolri, saya komunilasi terus, hingga akhirnya keluarga Brigadir J ke kantor saya dan muncul malamnya Bharada E tersangka," papar Mahfud.

Benny Mamoto akhirnya berbicara kepada Mahfud bahwa harus dilakukan bedol desa (bersih-bersih) untuk mengungkap kasus Brigadir J. Dan akhirnya, setelah ditetapkan sebagai tersangka, Bharada E mengaku bahwa dirinya diperintahkan oleh Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir J.

"Menurut laporan Benny Mamoto enggak akan bisa dibuka kalau tidak bedol desa (bersih-bersih) semua tempat kejadian sudah diacak-acak, sudah tambah barang ini olah TKP pertama, lama itu Kapolri rupanya punya pikiran yang sama akhirnya dilakukan bedol deso dan pada saat itu Bharada E mengaku bahwa saya diperintah," imbuh Mahfud.

Rekomendasi