Kemenkes Catat 363 Kasus Varian BA.2, Ini Gejala Klinisnya

Menurut Nadia, gejala klinis yang disebabkan Omicron BA.2 tak berbeda jauh dengan varian BA.1.1 dan BA.1. Seperti sakit tenggorokan, batuk, pilek, dan badan pegal-pegal.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Kemenkes Catat 363 Kasus Varian BA.2, Ini Gejala Klinisnya
Virus Corona. ©2020 Merdeka.com/who.int

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi melaporkan ada 363 kasus Omicron BA.2 di Indonesia. Data ini tercatat sejak Januari 2022.

"Tapi memang jumlahnya masih jauh lebih kecil dibandingkan BA.1.1 maupun BA.1 yang mendominasi distribusi varian Omicron di Indonesia," katanya melalui YouTube Kementerian Kesehatan RI, dikutip Rabu (16/3).

Menurut Nadia, gejala klinis yang disebabkan Omicron BA.2 tak berbeda jauh dengan varian BA.1.1 dan BA.1. Seperti sakit tenggorokan, batuk, pilek, dan badan pegal-pegal.

Omicron BA.2 dikabarkan memiliki karakteristik lebih cepat menular, meningkatkan keparahan gejala, dan semakin menurunkan efikasi vaksin. Namun, Nadia menegaskan belum ada data yang cukup untuk membuktikan Omicron BA.2 meningkatkan keparahan penyakit dan menurunkan efikasi vaksin.

"Tentunya masih diperlukan banyak data untuk pembuktian memastikan apakah betul semakin menurukan efikasi daripada vaksin pada BA.2," ujarnya.

Meski demikian, Nadia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan Omicron BA.2. Berkaca pada sejumlah negara di dunia seperti Inggris, Korea Selatan, dan Hongkong, kasus Covid-19 kembali melonjak akibat varian tersebut.

"Ini harus kita selalu waspada, jangan pernah lengah, meskipun situasi sudah membaik, kita harus terus mempertahankan protokol kesehatan dan percepat vaksinasi," tegasnya.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan kasus sub varian Omicron BA.2 sudah terdeteksi di 19 provinsi di Indonesia. Saat ini, varian tersebut sudah mendominasi penularan Covid-19 di Tanah Air.

"Saat ini, varian ini telah terdeteksi di 19 provinsi di Indonesia," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (15/3).

Wiku menyebut, berdasarkan data dari Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) 13 Maret lalu, sejak awal 2022 mulai terlihat kenaikan Omicron BA.2. Kondisi ini terlihat dari hasil final genome sequencing terhadap 8.302 sekuens di Indonesia.

Pada Senin (14/3) kemarin, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penularan Covid-19 di Indonesia saat ini didominasi sub varian Omicron BA.2. Varian ini memicu peningkatan kasus positif dan kematian di sejumlah negara, seperti Inggris, Hongkong, dan Korea Selatan.

"Nah kami sudah mengamati, memang di negara-negara ini peningkatan kasusnya karena ada sub varian baru, anak dari Omicron namanya sub Omicron BA.2," ujarnya.

Khusus di Hongkong, peningkatan kasus fatalitas Covid-19 dipicu vaksinasi pada kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) masih rendah, sekitar 26 persen. Berdasarkan data, pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit di Hongkong merupakan lansia.

"Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita nantinya," ujarnya.

Rekomendasi