Gunung Ile Lewotolok yang terletak di Nusa Tenggara Timur mengalami erupsi. Aktivitas erupsi terjadi hari ini, Jumat (11/2) pukul 07.43 WITA dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.200 meter di atas puncak.
Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 37 detik. Informasi ini dikutip dari magma.esdm.go.id, Jumat (11/2).
Saat ini, status Gunung Ile Lewotolok berada pada level III atau siaga. Masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak atau kawah.
Masyarakat Desa Jontona juga diimbau agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak atau kawah Gunung Iei Lewotolok.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian kepada merdeka.com mengatakan, letusan disertai dentuman lemah dan erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat. Ile Lewotolok siaga sejak 29 November 2020.
Menurut Stanislaus Ara Kian, saat ini gunung Ile Lewotolok berada pada status level III atau siaga dengan rekomendasi, masyarakat di sekitar gunung maupun pengunjung, pendaki atau wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari puncak, atau kawah gunung.
"Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk, yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak atau kawah gunung Ile Lewotolok," jelasnya.
Stanislaus Ara Kian menambahkan, mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA), maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar gunung Ile Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata serta kulit.
Abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling gunung Ile Lewotolok, maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak, agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi gunung Ile Lewotolok, yang tidak jelas sumbernya.
"Pemerintah daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung," jelasnya.
Advertisement
Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eko Budi Lelono mengungkapkan ada 11 gunung api di Indonesia mengalami erupsi. Namun, status gunung api tersebut berbeda-beda.
11 Gunung api tersebut ialah Sinabung, Kerinci, Anak Krakatau, Merapi, Dieng, Semeru, Ili Lewotolok, Ili Werung, Sirung, Ibu, dan Dukono.
"Dari 69 gunung api yang dipantau, sejauh ini ada 11 gunung api yang mengalami erupsi," ungkapnya dalam konferensi pers, Rabu (9/2).
Eko juga menyebut ada empat gunung api di Tanah Air yang berstatus level III atau siaga. Kemudian 18 gunung api berstatus level II atau waspada.
Berikut daftarnya:
Gunung Api Level III
1. Gunung Sinabung di Sumatera Utara
2. Gunung Merapi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah
3. Gunung Semeru di Jawa Timur
4. Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur
Gunung Api Level II
1. Gunung Depo
2. Gunung Awu
3. Gunung Kerinci
4. Gunung Merapi
5. Gunung Anak Krakatau
6. Gunung Bromo
7. Gunung Rinjani
8. Gunung Sangeangapi
9. Gunung Ili Werung
10. Gunung Sirung
11. Gunung Soputan
12. Gunung Lokon
13. Gunung Karangetang
14. Gunung Gamalama
15. Gunung Gamkonora
16. Gunung Ibu
17. Gunung Dukono
18. Gunung Banda
"Sedangkan pada level 1 atau statusnya normal ada 47 gunung api dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi," tandasnya.