Bencana banjir melanda hampir semua daerah pesisir timur Aceh dan menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi. Pemerintah pun didesak menetapkan status bencana provinsi agar penanganan dampaknya lebih maksimal.
Banjir diakibatkan intensitas hujan yang tinggi hingga meluapnya sungai dan tanggul jebol. Beberapa daerah juga dilanda longsor.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir melanda enam daerah pesisir timur Aceh, mulai dari Kota Lhokseumawe, Langsa, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Advertisement
Ibu Kota Aceh Utara Lumpuh
Di Aceh Utara, banjir melumpuhkan ibu kota kabupaten setempat, Lhoksukon. Sekitar 20 ribu lebih warga mengungsi. Banjir juga merenggut satu nyawa di Aceh Utara.
"Jalan lintas nasional Banda Aceh-Medan lumpuh akibat banjir," kata Kepala Pelaksana BPBA, Ilyas, Senin (3/1).
Advertisement
BPBD Data Dampak Banjir
Sejauh ini, BPBD masing-masing daerah terdampak banjir dan longsor masih terus melakukan pendataan terkait jumlah korban, pengungsi, dan fasilitas umum, baik sekolah dan kantor pemerintahan, yang terdampak.
Bantuan masa panik masih terus disalurkan kepada warga. Dapur umum di beberapa titik daerah terendam banjir telah didirikan.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh mendesak Pemerintah Aceh menetapkan keadaan darurat banjir di pesisir timur Aceh itu menjadi status bencana provinsi.
Hal ini untuk memaksimalkan penambahan sumber daya manusia terkait penanganan keadaan darurat bencana banjir yang terjadi di Aceh Utara dan Aceh Timur. Penanganan awal ini mencakup penyelamatan dan evakuasi penduduk yang terancam serta pemenuhan kebutuhan dasar korban.
"Supaya dapat meminimalisir terjadinya korban jiwa dan harta benda akibat banjir ini," ucap Direktur Eksekutif Walhi Aceh Ahmad Shalihin kepada wartawan, Senin (3/1).