Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) menegaskan, pihak kampus selalu bersikap transparan sejak awal dalam menyikapi peristiwa meninggalnya mahasiswa saat kegiatan resimen mahasiswa (Menwa). Pihak Kampus menyayangkan mahasiswa yang menyampaikan bahwa kematian tersebut terjadi pada saat kegiatan Pendidikan Dasar Anggota Baru Menwa yang diizinkan pihak kampus. Padahal, kegiatan yang diikuti merupakan acara pembaretan yang tidak memiliki perizinan resmi dari pimpinan kampus.
"Pada 13 September 2021 terbit edaran dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang melarang seluruh kegiatan di kampus kecuali pembelajaran. Karena itu seluruh kegiatan organisasi kemahasiswaan kemudian tidak diberikan izin. Kami bahkan mencabut izin kegiatan organisasi kemahasiswaan yang sudah sempat diberikan sebelum edaran Kemdikbudristek terbit," Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UPNVJ Dr Ria Maria Theresa dilansir Antara, Rabu (1/12).
Dia sangat menyayangkan apa yang disampaikan oleh mahasiswanya saat menjadi narasumber di media massa yang mengatakan mereka tidak mengetahui hal itu dan pihak kampus menutupi kejadian tersebut.
Sikap terbuka itu, dapat dilihat dari sikap kampus yang langsung memberitahu Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UPNVJ pada malam hari setelah kejadian tersebut. Turut pula kampus mengucapkan duka cita yang diunggah melalui media sosial dan acara doa bersama saat acara wisuda.
Bahkan, pihaknya langsung memerintahkan pembina Menwa UPNVJ untuk berangkat ke Rumah Sakit Ciawi untuk mengurus jenazah dan mendampingi keluarga mahasiswa itu.
Selain itu, kata dia, pihak keluarga menyatakan sudah menerima dan tidak mempermasalahkan kejadian yang menimpa anaknya karena telah memastikan langsung bahwa tidak ada tanda kekerasan.
Ria menjelaskan pihaknya justru khawatir kejadian tersebut akan dipermasalahkan kembali dan membuat keluarga yang berangkutan merasa terganggu. Dia berharap peristiwa itu dapat menjadi pembelajaran bagi semua civitas akademika.
"Kami semua di UPNVJ merasa prihatin atas kejadian ini dan berharap ini semua menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak, baik mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, maupun pihak kampus," tegas Ria.
Advertisement
Kronologi Kejadian
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UPN Veteran Jakarta Ria Maria Theresa mengatakan, pembaretan anggota Menwa tersebut dilaksanakan di Sentul, Jawa Barat sejak Jumat (24/9). Kemudian pada Sabtu (25/9), terdapat kegiatan 'long march'.
Ria menjelaskan, etape pertama 'long march' berjarak tiga kilometer menuju Masjid Jamik Tanah Baru. Peserta diberi dua kali waktu istirahat untuk minum dengan waktu selama lima menit.
"Menurut kronologis yang kami terima, kondisi medan untuk 'long march' masih jalur landai. Pada pukul 13.45 WIB, saat menuju pemberhentian kedua etape pertama, almarhumah terlihat kelelahan dan akhirnya panitia memutuskan menaikkannya ke dalam ambulans," kata Ria dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (30/11).
Ria melanjutkan bahwa pada pukul 14.30 WIB, saat tiba di tujuan etape pertama bersama ambulans, almarhumah keluar dari ambulans dan ikut bergabung kembali bersama teman-temannya yang sedang beristirahat. Menurut Ria, almarhumah menyatakan sudah merasa lebih baik dan siap melanjutkan perjalanan kembali.
"Pukul 14.45 WIB, setelah istirahat di etape pertama, perjalanan dilanjutkan menuju etape kedua, di Masjid Quba dengan jarak 3,1 kilometer. Pukul 15.30 WIB, kira-kira berjarak dua kilometer dari etape pertama, almarhumah mengalami kram kaki kirinya. Panitia memutuskan membawa almarhumah dengan ambulans menuju etape kedua," kata Ria, selaku Ketua Komisi Disiplin.
Dia menambahkan, pukul 16.10 WIB, sesampai di etape kedua, kondisi almarhumah semakin lemah dan mulai tidak kooperatif saat dibantu.
Panitia kemudian meminta bantuan ustaz di masjid, tetapi tidak bisa memberikan bantuan. Saat itu, kata Ria, almarhumah juga sudah diberikan bantuan oksigen karena sesak nafas.
Almarhumah kemudian dibawa ke lokasi pembaretan yang menjadi lokasi akhir 'long march' untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut berupa oksigen tambahan. Namun demikian, karena kondisinya tidak semakin membaik, panitia memutuskan membawa almarhumah ke Rumah Sakit EMC Sentul.
Kendati sudah menyalakan sirine, ambulans yang membawa almarhumah tidak bisa bergerak karena kemacetan di kawasan Sentul.
"Oleh warga setempat, panitia disarankan untuk berputar arah ke Ciawi. Namun, perjalanan menuju Rumah Sakit Ciawi juga macet," kata dia.
Dia menambahkan, pada pukul 18.45 WIB, denyut nadi di radialis almarhumah tidak teraba sehingga teman-temannya berinisiatif melakukan tindakan resusitasi jantung paru. Namun, setelah tiba di Rumah Sakit Ciawi, almarhumah dinyatakan meninggal pada pukul 19.07 WIB.
"Setelah mendengar kabar almarhumah meninggal, pembina Menwa UPNVJ segera berangkat ke Rumah Sakit Ciawi untuk membawa almarhumah ke rumah keluarga di Palmerah, Jakarta Barat dan memakamkan di Sragen, Jawa Tengah," tutur Ria.
Advertisement
Komdis Melakukan Penyelidikan
Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Erna Hernawati meminta Komisi Disiplin (Komdis) segera menyelidiki kematian mahasiswi Fauziyah Nabilah saat mengikuti kegiatan pembaretan Resimen Mahasiswa (Menwa) Jayakarta pada Sabtu (25/9) silam.
Erna Hernawati mengatakan, Komdis diminta secepatnya memberikan rekomendasi kepada Rektor terkait dengan kemungkinan sanksi terhadap pengurus Menwa UPNVJ.
"Rektor akan memutuskan berdasarkan data dan fakta dari Komisi Disiplin. Aturan sudah ada, keputusan Rektor akan berdasarkan peraturan," kata Erna dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (30/11).
Erna saat menemui mahasiswa yang melakukan aksi di Plaza Wardiman, Kampus UPNVJ Pondok Labu, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa pihaknya langsung memerintahkan agar ada perwakilan dari UPNVJ untuk menangani langsung jenazah almarhumah dan mendampingi keluarga seusai korban meninggal dunia.
"Sebelum ada pertanyaan dari mahasiswa, setelah saya mendengar kabar ada mahasiswa yang meninggal pada malam hari, keesokannya saat hari kedua wisuda langsung kita mendoakannya," tutur Erna.
Selanjutnya pada 28 September 2021 menurut Erna, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama mengundang pihak yang terlibat termasuk keluarga almarhumah secara daring untuk mendapatkan kronologis kejadian tersebut.
Setelah mengadakan beberapa kali pertemuan untuk membahas kejadian tersebut, kemudian Rektor membentuk Komisi Disiplin tingkat universitas pada 1 November 2021 untuk mencari data dan fakta.
Erna juga meminta mahasiswa untuk membuat kajian berdasarkan penelitian yang jelas jika ingin membubarkan resimen mahasiswa (Menwa).
"Silakan membuat kajian yang akademis mengenai keberadaan Menwa. Menwa tidak hanya ada di UPNVJ. Kalau ada kajian, saya tunggu, akan saya sampaikan kepada pihak yang berwenang," kata dia.
Ratusan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) sebelumnya menuntut pihak kampus untuk menyelidiki penyebab mahasiswa D-3 Fisioterapi yang meninggal dunia saat mengikuti kegiatan pembaretan Resimen Mahasiswa (Menwa) UPNVJ di Bogor pada 25 September 2021.