Kasus Covid-19 Melandai, Ahli Kesehatan Ingatkan Masyarakat Jangan Dulu Euphoria

"Vaksin itu enggak ada yang efektif 100 persen, nah kecepatan vaksinasi yang sekarang itu sampai akhir tahun ini Prakiraan kami itu ada sekitar 55 persen penduduk Indonesia yang punya kekebalan atau imunitas terhadap Covid-19," ujarnya.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kasus Covid-19 Melandai, Ahli Kesehatan Ingatkan Masyarakat Jangan Dulu Euphoria
Antisipasi Covid-19 di Terminal Kampung Rambutan. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Peningkatan angka mobilitas masyarakat yang naik selama masa pelonggaran PPKM. Ahli Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dr. Iwan Ariawan, M.S.P.H menyebutkan situasi ini harus tetap waspada dan tidak menjadikan euphoria.

Saat ini penularan sedang dalam titik terendah selama pandemi di Indonesia. dr. Iwan Ariawan mengatakan mobilitas harus dilenyapkan secara perlahan-lahan supaya kegiatan sosial ekonomi bisa berlangsung tapi secara berhati-hati pelonggarannya.

"Pengalaman kita yang dulu kalau mobilitas naik, kemudian akan diikuti kasus naik. Ini yang kita tidak ingin terjadi saat ini, sehingga harus dilakukan hati-hati pelonggaran mobilitas ini," ujarnya dalam live BNPB Indonesia, Selasa (28/9).

Ia mengatakan bahwa masyarakat jangan dulu ber-euphoria karena risiko untuk meningkat lagi masih ada.

"Karena otomatis kan dengan penularan turun, aktivitas sosial ekonomi, mobilitas dibuka ya dilonggarkan. Nah jadi dalam melakukan aktivitas sosial ekonomi yang sudah diperbolehkan oleh pemerintah yang diatur oleh PPKM itu kita harus dilakukan dengan hati-hati dengan sangat hati-hati kita ikuti aturannya."

Iwan memperkirakan tingkat kekebalan akan virus Covid-19 melalui vaksinasi di Indonesia akan mencapai sekitar 55 pada akhir tahun.

"Vaksin itu enggak ada yang efektif 100 persen, nah kecepatan vaksinasi yang sekarang itu sampai akhir tahun ini Prakiraan kami itu ada sekitar 55 persen penduduk Indonesia yang punya kekebalan atau imunitas terhadap Covid-19," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan masih ada juga sebagian warga Indonesia yang belum di vaksin dan beresiko terjangkit virus Covid-19.

"Risikonya bisa terjadi wabah nya di mereka-mereka yang belum di vaksin ini. Kalau terjadi wabah seperti itu bisa terjadi juga mutasi. Kalau mau merepotkan karena yang sudah divaksin pun nanti bisa terkena juga ya kalau mutasi baru yang lebih ganas, kita yang sudah divaksin tidak mempan lagi vaksinnya, itu yang harus kita hindari."

Ia mengatakan masyarakat boleh saja beraktivitas namun harus tetap mengikuti aturan.

"Silakan beraktifitas sesuai dengan level PPKM-nya, tapi kita ikuti aturan2 yang sudah dibuat supaya kita bisa beraktivitas dengan aman," ujarnya.

Protokol Kesehatan Masih Bersifat Suatu Keharusan

Protokol kesehatan masih menjadi satu hal yang harus ataupun mungkin sifatnya adalah keharusan belum kemudian menjadi bagian dari budaya atau kebiasaan dari perilaku masyarakat khususnya di Indonesia.

Ketua Laboratorium Intervensi Sosial dan Krisis, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Dicky Chresthover Pelupessy, Ph.D mengatakan secara mendasar masyarakat indonesia memiliki modal sosial untuk memenangkan atau melawan pandemi ini.

"Sebetulnya secara mendasar kita punya punya modalnya. Kalau saya katakan kita punya modal sosial punya kolektivitas punya yang kita sebut sebagai gotong royong. Nah tinggal bagaimana ini kemudian seperti direvitalisasi dan kemudian terus-menerus diingatkan itu," ujarnya dalam live BNPB Indonesia, Selasa (28/9).

"Ayo kita sama-sama menghadapi ini dan saya ini apa yang kita punya punya modal sebetulnya untuk menjadikan kita bisa menang melawan pandemi ini kalau kita menang ya itu kan memang kita punya modal modal sosial itu tadi," kata Dicky.

Reporter Magang: Leony Dharmawan

Rekomendasi