Perkembangan teknologi dalam bidang biometrik dapat membantu pemulihan ekonomi pasca pandemi. Ketua Umum Asosiasi Industri Teknologi Biometrik Indonesia, Fega M Syakrani menyampaikan bahwa berbagai moda pengenalan biometric seperti sidik jari, retina, atau wajah dapat membantu tracing dan tracking penyebaran Covid-19, terlebih apabila teknologi ini dipasang pada aplikasi yang tidak membutuhkan jaringan internet.
Turut hadir dalam acara peluncuran virtual tersebut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Prof Zudan Arif Fakhrulloh, Sekretaris Utama Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Marsda TNI Jemi Trisonjaya dan Wakil Ketua Komisi II DPR-RI Lukman Hakim.
Fega juga menyampaikan bahwa kendala utama dalam aplikasi tracing dan tracking penyebaran Covid-19 adalah kebergantungan terhadap smartphone dan jaringan internet.
"Di luar negeri maupun di Indonesia, sudah banyak pelaku startup biometrik yang mengembangkan fitur inovatif seperti QR berbasis biometrik yang tidak membutuhkan jaringan internet cepat. Tentu ini dapat membantu adopsi aplikasi tracing dan tracking di daerah dengan konektivitas internet yang rendah, dan juga mengurangi biaya bagi UKM yang ingin membuka usahanya kembali pada pasca pandemi," katanya, Senin (20/9).
Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Sosial Angkie Yudistia yang juga hadir dalam acara ini turut mengapresiasi dan mendukung revolusi digital yang inklusif. "Revolusi digital yang inklusif membutuhkan 3A (access, affordability, dan ability). Tiga hal ini harus terus kita upayakan agar demokratisasi akses digital dapat berjalan," kata Angkie.
Pada kesempatan yang sama, beberapa anggota asosiasi ikut membantu penyaluran distribusi vaksin bagi penyandang disabilitas yang diselenggarakan di Sekretariat DPRD kantor Pemerintah Provinsi Bali. Kehadiran teknologi biometrik membantu distribusi vaksin khususnya bagi penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam mendaftarkan diri dalam program vaksinasi.