Demonstrasi menolak PPKM darurat di depan Balai kota Bandung diwarnai kericuhan. Ratusan remaja yang diduga terlibat diamankan polisi.
Semula, aksi demonstrasi yang melibatkan massa dari mahasiswa, pedagang, dan ojek online berlangsung kondusif. Mereka meminta agar kebijakan perpanjangan PPKM darurat dibatalkan karena dianggap tidak efektif menekan angka kasus COVID-19 dan menimbulkan permasalahan sosial ekonomi.
Namun, aksi itu tiba-tiba memanas hingga terjadi bentrokan dengan polisi karena diduga ada penyusup. Polisi pun membubarkan demonstrasi karena pertimbangan protokol kesehatan. Beberapa di antara mereka diamankan.
Ratusan orang yang diamankan mayoritas berusia remaja. Mereka dikumpulkan di halaman gedung sate untuk didata dan dites swab untuk memastikan status keterpaparan COVID-19.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Ulung Sampurna Jaya menjelaskan ratusan remaja ini mengaku mengetahui aksi demonstrasi dari ajakan di media sosial.
"Bahwa ojol dan PKL ini tidak ikut serta (dalam kericuhan). (Remaja uang diamankan) ini sekitar 150 orang. Mereka juga sempat melakukan penutupan jalan dan melakukan pengrusakan di sekitarnya," kata Ulung.
"Hasil pendataan sementara dari ratusan orang ini ada mahasiswa 9 orang, sisanya SMA siswa SMP dan pengangguran. Saat pembubaran ada bom molotov ini dipersiapkan mereka," ia melanjutkan.
Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pendataan sekaligus mengamankan barang bukti berupa bom molotov.
"Hasil semnetara ini baru dimulai sudah 3 orang reaktif makanya kerawanan penyebaran kerumunan ini bahaya. Provokator ini akan kita cari ajakan di medsos itu siapa membuat dan menyebarakan," pungkasnya.