Ditemui Airlangga Hartanto, Buya Syafii Keluhkan Indonesia Krisis Negarawan

Menko Perekonomian Airlangga Hartanto mengunjungi kediaman Buya Syafii Maarif di Perum Nogotirto, Kabupaten Sleman, Sabtu (19/6). Dalam silaturahmi ini, Ketua Umum Partai Golkar ditemani Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ditemui Airlangga Hartanto, Buya Syafii Keluhkan Indonesia Krisis Negarawan
Menko Perekonomian Airlangga Hartanto saat bertemu Buya Syafii Maarif, Sabtu (19/6). ©2021 Merdeka.com

Menko Perekonomian Airlangga Hartanto mengunjungi kediaman Buya Syafii Maarif di Perum Nogotirto, Kabupaten Sleman, Sabtu (19/6). Dalam silaturahmi ini, Ketua Umum Partai Golkar ditemani Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Pertemuan dilaksanakan tertutup. Kurang lebih satu jam Buya Syafii menjamu Airlangga dan Agus.

Saat ditanya tentang obrolannya dengan Buya Syafii, Airlangga enggan menjawab. Dia menyebut pertemuan itu hanya silaturahmi. "Ini silaturahmi dengan anak bangsa," ucapnya.

Sementara itu, Buya Syafii Buya Syafii membeberkan bahwa dalam pertemuan itu sejumlah permasalahan bangsa dan politik nasional. Meski demikian, tak ada obrolan tentang keinginan Airlangga maju sebagai capres di Pilpres 2024.

Ini kali pertama Buya Syafii berbincang dengan Airlangga. Dari empat menteri koordinator (Menko), Airlangga menjadi sosok yang terakhir bersilaturahmi ke rumahnya.

"Diskusinya panjang dan hangat. Terus terang saya baru pertama kali (ngobrol dengan Airlangga). Dari Menko ada empat, ini (Airlangga) yang terakhir datang ke rumah. Yang lain sudah datang semua," ungkapnya.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini memaparkan dalam pertemuan itu dirinya sempat membahas tentang krisis negarawan di Indonesia. Dia menjabarkan saat ini di Indonesia lebih banyak politisi dibandingkan negarawan.

"Ya, tentang krisis (negarawan). Tantangan kita kan berat. Covid, korupsi masih merajalela begini. KPK juga tidak seperti kita harapkan. Hukum juga begitu," ungkapnya.

Buya Syafii membeberkan jika salah satu persoalan bangsa ini karena kabinet presidensial ternyata justru berbau parlementer. Buya Syafii mengkritik, kabinet bukan diisi para ahli melainkan didominasi orang partai.

"Partai-partai itu kan haluannya tidak sama. Mereka punya kepentingan strategi masing-masing. Jadi, karena ini kan presidensial tapi terasa seperti parlementer. Itu sulit sekali, sangat sulit. Itu salah satu bentuk (penyebab). Tapi itu hasil politik, mau apa? " ucap Buya Syafii.

"Ya sudah lalui saja. Yang penting menurut saya kesetiaan kepada bangsa dan negara ini jangan sampai lemah, berkurang. Timbulkan kembali patriotisme, nasionalisme," sambungnya.

Rekomendasi