Pakai FDR & CVR, KNKT akan Lakukan Simulasi Ungkap Kecelakaan Sriwijaya Air

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono menjelaskan, pertemuan membahas pemeriksaan komponen milik Sriwijaya Air yang dikirim ke Amerika Serikat. Namun, pemeriksaan tersebut belum selesai dilakukan karena alat pengetesan tersebut rusak.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Pakai FDR & CVR, KNKT akan Lakukan Simulasi Ungkap Kecelakaan Sriwijaya Air
Rilis penemuan CVR Sriwijaya Air SJ-182. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih terus melakukan investigasi terhadap kecelakaan pesawat Sriwijaya Air PK-CLC pada 9 Januari 2021 lalu. KNKT mengundang National Transportation Safety Board (NTSB), Boeing, Federal Aviation Administration (FAA) dan Transport Safety Investigation Bearu (TSIB), dalam pertemuan virtual, Senin (24/5).

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono menjelaskan, pertemuan membahas pemeriksaan komponen milik Sriwijaya Air yang dikirim ke Amerika Serikat. Namun, pemeriksaan tersebut belum selesai dilakukan karena alat pengetesan tersebut rusak.

“Investigasi juga berencana untuk melakukan beberapa simulasi menggunakan simulator dan diharapkan siap pada akhir Juni 2021. Simulasi akan menggunakan data Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder (CVR),” kata Soerjanto dalam keterangan persnya, Kamis (27/5).

Soerjanto menambahkan, pertemuan juga membahas tentang diterbitkannya Continued Airworthness Notification to the International Community (CANIC) oleh FAA pada 14 Mei 2021.

Dalam CANIC, disebutkan, pada saat proses investigasi kecelakaan Sriwijaya Air tersebut, Boeing menemukan adanya isu keselamatan berupa potensi kegagalan flap synchro wire yang mungkin tidak terdeteksi oleh autothrottle computer.

“Namun demikian, berdasarkan data awal dari proses investigasi menunjukan bahwa sangat kecil kemungkinannya kecelakaan Sriwijaya Air disebabkan oleh isu keselamatan dimaksud,” kata Soerjanto lagi.

KNKT melihat bahwa CANIC ini diterbitkan oleh FAA yang menengarai adanya safety issue, yaitu suatu kondisi yang terindentifikasi dalam proses investigasi, yang apabila tidak dilakukan perbaikan, dapat berakibat pada kecelakaan.

Berdasarkan hasil investigasi KNKT, fakta menunjukan bahwa satu pengatur tenaga mesin berkurang. Sementara yang lain tetap, sehingga menimbulkan perbedaan tenaga mesin.

“Dalam CANIC juga dinyatakan bahwa adanya kerusakan yang tidak terdeteksi pada flap synchro sangat kecil kemungkinannya menyebabkan kecelakaan,” jelas dia.

KNKT saat ini belum meneukan adanya keterkaitan antara kegagalan flap synchro wire dengan pergerakan pengatur tenaga mesin. Investigasi juga masih mendalami data FDR dan CVR termasuk rencana pelaksanaan simulasi jika diperlukan.

“Pada tahap ini, investigasi masih akan dilakukan banyak pemeriksaan dan penelitian, sehingga penyebab kecelakaan sampai saat ini masih belum diketahui,” tutup Soerjanto.

Rekomendasi