Masyarakat Diminta Tak Telan Mentah-mentah Informasi di Medsos, Jangan Mudah Emosi

Salah satu dampak dari minimnya literasi muncul efek negatif seperti suburnya hoaks, fitnah, ujaran kebencian dan provokasi.

Didi Syafirdi
Oleh Didi Syafirdi - Reporter
Masyarakat Diminta Tak Telan Mentah-mentah Informasi di Medsos, Jangan Mudah Emosi
Ilustrasi Media Sosial. ©2014 Merdeka.com

Masyarakat perlu meningkatkan literasi karena serbuan informasi dari teknologi dan komunikasi saat ini sangatlah kuat. Salah satu dampak dari minimnya literasi muncul efek negatif seperti suburnya hoaks, fitnah, ujaran kebencian dan provokasi.

Pengamat media sosial (medsos) Rulli Nasrullah mengatakan bahwa medsos dapat menjadi alat yang luar biasa untuk menggerakkan massa. Apalagi dengan makin maraknya kecenderungan provokasi di medsos menjadi semakin liar. Ironisnya, masyarakat banyak yang tidak sadar dengan disinformasi.

"Saya pikir memang perlu kebijaksanaan yang luar biasa untuk menyikapi realitas yang ada di medsos. Karena biasanya yang memprovokasi itu sering memotong-motong realitas yang ada, jadi tidak secara utuh informasi disampaikan," ujar Rulli Nasrullah dalam keterangannya, Kamis (5/11).

Salah satu disinformasi yang kini sedang ramai adalah adalah pernyataan Presiden Prancis Emmanuel tentang Islam dan terorisme memunculkan gelombang kecaman yang luas di medsos. Bahkan di negara-negera Islam, termasuk Indonesia, pernyataan itu memicu untuk memboikot produk Prancis dan berbagai provokasi lainnya.

Oleh sebab itu Rulli menegaskan dalam menggunakan medsos itu seseorang tidak boleh emosi. Karena penyebab berkembangnya hoaks, radikalisme dan terorisme di medsos salah satunya adalah karena emosinya dimainkan oleh para provokator. Rulli mengingatkan, ketika melihat sebuah foto, atau sebuah pernyataan untuk jangan buru-buru langsung ditafsirkan.

"Kita tunggu dulu, ditanyakan dulu kepada orang yang lebih ahli. Sehingga kita bisa melihat konten itu sebenarnya maksudnya seperti apa. Saya melihat ini yang dimainkan oleh pihak-pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab untuk memainkan isu-isu seperti itu," tuturnya.

Dia mengatakan dari pengalamannya selama menjadi tim literasi digital di Kominfo dan Kemdikbud, ia dan timnya telah banyak melakukan promosi dan diseminasi informasi. Tetapi pada akhirnya, itu semua kembali kepada kedewasaan masing-masing pengguna medsos.

Ia berharap agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi yang ada. Kemudian media massa mainstream juga harus ikut berperan juga. Rulli menyebut, media sebagai pilar keempat demokrasi selain bertugas mengungkapkan kebenaran, tetapi di sisi yang lain juga harus menekan agar disinformasi, hoaks dan berita yang misleading itu tidak sampai tersebar lebih jauh.

"Media massa harus memastikan bahwa semua sumbernya terutama sumber-sumber yang berasal dari internet dan medsos itu harus dipastikan kebenarannya," tandasnya.

Rekomendasi