UGM Kembangkan Alat Deteksi Covid-19 dari Embusan Napas

Hargo menjelaskan, sampai saat ini terkait perilisan produk seperti ini belum ada sama sekali di dunia. Sedangkan untuk kompetitor Indonesia saat ini hanya Israel dan Amerika Serikat dengan tahapan posisi yang sama untuk dapat approval di dunia.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
UGM Kembangkan Alat Deteksi Covid-19 dari Embusan Napas
Ilustrasi corona. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Universitas Gadjah Mada (UGM) Science TechnoPark tengah mengembangkan Electronic-Nose (GeNose). Ini merupakan alat yang akan mendeteksi seseorang terjangkit Covid-19 melalui embusan napas.

"Ada produk GeNose, basisnya itu Electronic-Nose ini adalah alat deteksi cepat untuk Covid-19 dari embusan napas," kata Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi dan UGM Science Technopark, Hargo Utomo dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Senin (31/8).

Dia menjelaskan, sampai saat ini terkait perilisan produk seperti ini belum ada sama sekali di dunia. Sedangkan untuk kompetitor Indonesia saat ini hanya Israel dan Amerika Serikat dengan tahapan posisi yang sama untuk dapat approval di dunia.

"GeNose merupakan inovasi yang harapannya sebagai sensor untuk mendeteksi Covid-19 ini bisa mereduksi kepentingan banyak untuk mendeteksi awal Covid-19 dan juga untuk mitigasi risiko pasca Covid-19," jelasnya.

Berdasarkan paparan yang disampaikan, GeNose memiliki tiga prinsip kerja dengan melibatkan, pertama peningkatan zat yang mudah menguap ke susunan sensor. Kedua generasi perubahan sensor yang menghasilkan pola sinyal unik dan ketiga integrasi pola sinyal untuk tujuan klarifikasi.

"GeNose telah melalui tahap validasi terhadap 600 sampel dengan data secara empiris sampai tingkat akurasi mencapai 97 persen kira-kira. Lalu berikutnya uji diagnostik, diharapkan segera masuk uji klinis dan mudah-mudahan kalau diakselerasi dan nggak ada kendala mudah-mudahan Oktober atau November bisa dipakai," ujarnya.

Atas hal itu, Hargo mengatakan bila pengembangan GeNose ini berhasil akan sangat berdampak selain membantu melakukan deteksi Covid-19 yakni, akan menghemat pengeluaran negara.

"Ini akan menghemat budget negara tidak hanya untuk rapid dan PCR. Jadi ini untuk disandingkan sebagai verifikator tes PCR. Jadi dalam tempo kurang dari 5 menit seseorang bisa terdeteksi apakah positif atau negatif sehingga dengan begitu ditangani dengan cara lebih baik," tuturnya.

Oleh sebab itu, dia mengharapkan agar pemerintah dapat mendukung produk ini bila nantinya berhasil agar dapat diproduksi agar masuk dalam pasar sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam kesehatan.

Rekomendasi