Pemda DIY mengeluarkan data terbaru pasien positif virus Corona hingga Jumat (1/5). Dari data terbaru ini diketahui ada 104 pasien positif virus Corona di DIY.
Berdasarkan penyelidikan epidemiologi dan tracing pada pasien, diketahui ada tiga klaster besar penularan virus Corona di DIY. Ketiga klaster ini adalah Klaster Jemaah Tabligh Sleman, Klaster Jemaah Tabligh Gunungkidul dan Klaster GPIB Kota Yogyakarta.
Klaster Jemaah Tabligh Sleman dan Klaster Jemaah Tabligh Gunungkidul ini terkait dengan Jemaah Tabligh Jakarta (Masjid Jami Kebon Jeruk). Sedangkan Klaster GPIB Kota Yogyakarta terkait dengan Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB di Hotel Aston, Kota Bogor.
Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Covid-19 DIY yang juga ahli epidomiologi UGM, Riris Andono Ahmad atau kerap disapa Doni untuk klaster Jemaah Tabligh Sleman dan Gunungkidul berawal dari dua orang yang mengikuti kegiatan tabligh di Jakarta. Keduanya berangkat dan pulang bersama. Kemudian satu orang pulang ke Kabupaten Sleman. Sedangkan yang satu orang lagi pulang ke Kabupaten Gunungkidul.
"Satu jemaah yang pulang ke Gunungkidul ini menjadi satu klaster yang terdiri dari 18 kasus. Dari 18 kasus tersebut 6 orang di antaranya positif corona. 11 orang lainnya hasil rapid test positif atau reaktif. Sementara 1 orang lainnya meninggal dunia dengan status PDP sebelum dites swab," ujar Doni.
Doni menerangkan satu anggota jemaah yang pulang ke Sleman juga membentuk satu klaster baru. Dari klaster ini ada 24 kasus. Dari kasus ini ada pula 4 WNA India yang dinyatakan positif virus Corona.
"Jemaah dari India bisa juga karena kita tidak tahu. Memang dari Jakarta ke Yogya tapi sebelum dari Jakarta tidak tahu ke mana. Bisa jadi ada koinsiden. Kita screening di satu tempat maka dimasukkan ke klaster Sleman. Kita bicara transmisi bukan kewarganegaraan," ungkap Doni.
Advertisement
Doni menerangkan dari klaster Jemaah Tabligh di Sleman ini diketahui dari pemetaan sudah masuk generasi ketiga. Sementara untuk klaster Jemaah Tabligh Gunungkidul diketahui sudah masuk generasi kelima.
Doni menuturkan untuk klaster GPIB Kota Yogyakarta berawal dari kegiatan Sinode di Kota Bogor. Saat itu ada tiga jemaah gereja dari DIY yang ikut hadir sebagai perwakilan. Usai kegiatan, ketiganya diketahui sempat ada kegiatan di Semarang dan hadir pula dipertemuan gereja yang diadakan di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
"Pertemuannya di bulan Maret belum terjadi paskah itu terpisah dari event Paskah. Dan GPIB secara proaktif lapor ke kita. Dari klaster ini ada 17 kasus dengan 2 kasus terkonfirmasi (positif corona), 3 PDP dan selebihnya kasus yang positif terhadap rapid test," ungkap Doni.