Gagalnya Penyelundupan Sabu Karena Delapan Kurir Gunakan Sepatu Sama Persis

Petugas menaruh curiga dengan delapan pemuda yang mengenakan sepatu yang jenis dan warnanya sama persis. Sepatu warna hitam dengan tapak putih. Petugas melihat kegelisahan para pelaku ketika dipelototi petugas bandara.

Abdullah Sani
Oleh Abdullah Sani - Reporter
Gagalnya Penyelundupan Sabu Karena Delapan Kurir Gunakan Sepatu Sama Persis
Delapan Pemuda Gagal selundupkan 4 Kg sabu di Bandara Pekanbaru. ©2019 Merdeka.com/Abdullah Sani

Delapan orang pria ditangkap di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Mereka kedapatan membawa 4 kilogram sabu saat hendak terbang dengan maskapai Lion Air dengan tujuan Surabaya.

Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto mengatakan, sabu itu dikemas dalam 32 paket. Gelagat para pelaku mencurigakan petugas keamanan Bandara atau Aviation Security (Avsec) Bandara SSK II Jumat (28/6) sekitar pukul 05.00 WIB tadi pagi.

"Ke delapan pelaku semua berasal dari Aceh. Masing-masing berinisial RS (24), M (30), FN (25), Md (19), SW (21), Ms (22), Mh (19) Dan AH (25)," kata Susanto.

Susanto menyebutkan, penggagalan upaya penyelundupan sabu itu bermula dari kecurigaan petugas Avsec. Saat diperiksa, ternyata benar, mereka membawa sabu.

"Mereka melewati pemeriksaan di lantai dua gedung Bandara atau tepat sebelum menuju ruang tunggu," kata Susanto.

Petugas menaruh curiga dengan delapan pemuda yang mengenakan sepatu yang jenis dan warnanya sama persis. Sepatu warna hitam dengan tapak putih. Petugas melihat kegelisahan para pelaku ketika dipelototi petugas bandara.

"Salah satu yang membuat petugas curiga adalah jenis dan warna sepatu mereka yang sama,” kata Susanto.

Akhirnya setelah diperiksa, petugas menemukan sabu yang terbungkus rapi dengan menggunakan plastik hitam di dalam sepatu masing-masing pelaku. Total disita 32 paket sabu dengan berat mencapai 4,1 gram.

Polisi menduga para pemuda itu merupakan kurir yang dipergunakan Bandar untuk mengedarkan sabu ke luar provinsi. "Saat ini, penyidik sedang mendalami siapa yang membiayai, menyuruh mereka dan siapa yang menerimanya," tegas Susanto.

Rekomendasi