Di balik suksesnya Pemilu 2019, ada orang-orang yang berjasa membuat pemilu berjalan lancar. Bukan tugas yang mudah menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara). Mereka melakukan tugas yang cukup berat.
Berikut kisah haru para petugas KPPS saat menjalankan tugas di Pemilu 2019 agar pemilu berjalan lancar:
Advertisement
Petugas KPPS di Polewali Mandar, Sulawesi Barat rela tak tidur demi menghitung suara. Mereka masih terus menyelesaikan tugas hingga pukul 12.00 WITA. Salah satu petugas KPPS, Retno, mengatakan bahwa lamanya proses rekapitulasi di TPS karena banyaknya format yang harus diisi.
Belum lagi penghitungan suara yang harus teliti, dan itu melelahkan. Karena banyak tugas yang diemban, para petugas KPPS itu sampai tak berani pulang. Mereka hanya beristirahat sejenak di TPS.
Advertisement
Koordinator divisi hubungan masyarakat, data, informasi dan antar lembaga KPU Sulsel, Uslimin, mengungkap ada dua penyelenggara di tingkat KPPS di Sulsel menjadi korban penganiayaan. Mereka disiram tinta dan disundut rokok, juga ada yang dipukul. Semuanya terjadi di hari pemungutan suara, Rabu 17 April.Imam Hamka Putra, nama petugas di TPS 01, Kelurahan Penggoli, Kota Palopo disiram tinta wajahnya dan disundut rokok tangannya oleh pemilih di hari pencoblosan. Satu korban lagi adalah Mahdan, ketua KPPS di TPS 04, Desa Bonepute, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur menjadi korban pemukulan di hari pencoblosan juga."Kalau ada yang tidak cocok, ayo kita cocokkan C1 nya. Bahkan langkah paling akhir sekali kalau memang misalnya tidak bisa selesai-selesai juga, kita buka kotak suara dan dihitung ulang surat suara di dalam kotak itu," kata Uslimin.
Advertisement
KPU Bone Bolango, Gorontalo harus menempuh 13 jam untuk mendistribusikan kotak suara ke desa-desa di sana. Untuk mencapai desa-desa yang terpencil, para petugas harus memikul kotak suara dan berjalan kaki dibantu oleh para petugas KKP. Karena wilayahnya yang masih terjal dan masih belum bisa diakses kendaraan."Hampir 13 jam jalan kaki logistik ini akan dibawa oleh warga yang kita sewa jasa pikulnya. Ada 40 kotak untuk TPS. 13 kotak kosong untuk rekapituasi tingkat PPK dan kertas suara," kata Anggota Komisiner KPU Provinsi Gorontalo, Sophan Rahmola.
Advertisement
Seorang personel kepolisian di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut) bernama Aiptu Jonter Siringoringo (51) meninggal dunia saat mengawal proses pemungutan suara Pemilu 2019. Almarhum sempat alami sesak napas.Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang untuk mendapat perawatan dan diperiksa secara medis. Pukul 16.50 WIB, Jonter mengembuskan napas terakhir.Kasubbag Humas Polres Dairi, Ipda Donni Saleh mengatakan, Aiptu Jonter tercatat sebagai anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Dairi. Jonter meninggal dunia pada Kamis, 18 April 2019. "Sebelum meninggal dunia, Jonter sempat mengawal surat suara Pemilu 2019 di TPS yang berada di Tiga Baru, Kecamatan Pegagan Hilir, Dairi," kata Donni.