Jelang Natal & Tahun Baru, Kasatgas Pangan Harap Lembaga Terkait Benahi Koordinasi

Mantan Kadiv Humas Polri menjelaskan, koordinasi dimaksud yakni semua instansi atau lembaga terkait pangan harus sama-sama terbuka. Baik itu dari pemerintah maupun asosiasi.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Jelang Natal & Tahun Baru, Kasatgas Pangan Harap Lembaga Terkait Benahi Koordinasi
Kepala Satgas Pangan Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto sidak bulog Sumbar. ©2018 Merdeka.com

Kepala Satgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, beberapa lembaga terkait pangan harus saling berkomunikasi satu sama lain. Hal itu agar harga pangan di pasar stabil jelang Hari Raya Natal pada 25 Desember.

"Tadi dari bapak Kabareskrim tentang 3 hal yang pertama stock atau kesediaan bahan pangan itu sendiri, yang kedua distribusi dan ketiga adalah harga. Saya kira ini lebih bagus, lebih sistematis, dan konseptual. Moga-moga ke depan satgas pangan lebih baik dalam mengendalikan harga-harga," kata Setyo di Kantor Bareskrim Polri di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir , Jakarta Pusat, Kamis (15/11).

"Satgas pangan itu sifatnya koordinatif. Kita selalu koordinasi tapi mohon maaf terkadang koordinasi itu hanya bisa diucapkan tapi tidak bisa dilaksanakan. Mungkin ada 2 sektoral, ini lah yang menghambat tugas kita semuanya. Saya mengajak marilah kita bersama-bersama, kemudian di bawah pimpinan bapak Kabareskrim. Kita berkoordinasi betul-betul koordinasi, bukan hanya di bibir saja," sambungnya.

Kendati demikian, jika koordinasi yang dilakukan hanya di bibir saja tapi tak dilaksanakan. Pada akhirnya tidak akan menemukan titik permasalahan. Apalagi, kata dia, jika sampai Kabareskrim Komjen Pol Arief Sulistyono turun ke lapangan.

"Karena memang kalau hanya di bibir saja kita tidak akan ketemu dan ujung-ujungnya Kabareskrim turun, tindakan hukum, baru menyesal. Wah kenapa kemarin saya tidak koordinasi dengan baik," ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Kadiv Humas Polri menjelaskan, koordinasi dimaksud yakni semua instansi atau lembaga terkait pangan harus sama-sama terbuka. Baik itu dari pemerintah maupun asosiasi.

"Kemudian masalah daging, gula, semuanya. Kita bicara data, harus clear. Jadi tidak ada bicara data 'menurut saya'. Data adalah berdasarkan kenyataan di lapangan yang diperoleh oleh ahlinya dan keluarlah data itu," jelasnya.

"Sementara kalau kita hanya mengandalkan 'ini menurut saya sekian' wah ini enggak akan selesai. Ujung-ujungnya adalah nanti apa yang disampaikan Kabareskrim, last effort saja, kebijakan hukum. Saya melihat kebijakan pak Kabareskrim ini sudah sangat bagus. Kita tidak boleh mengganggu stabilitas harga, stabilitas pangan nasional," tambahnya.

Oleh karena itulah, dia mengajak kepada seluruh pemangku kepentingan baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta, untuk bersama-bersama berkoordinasi dengan betul-betul take and give.

Selain itu, dia ingin semua ketersediaan dan harga-harga pangan harus dicek kembali, mulai dari awal November kemarin hingga Desember. Hal itu juga untuk mempengaruhi harga pangan.

"Pengalaman tahun 2017 sempat di NTT bawang putih mencapai di atas Rp 100 ribu, hanya gara-gara terlambat distribusi. Tapi karena diambil alih oleh Kementerian Perdagangan dan Pertanian maka cepat mendapatkan supply, karena keterlambatan kapal suplly dengan pesawat terbang harga bisa turun lagi kita harapkan bisa terjadi penurunan harga," tuturnya.

Dia mengaku, koordinasi yang selama ini dilakukan dengan lembaga terkait membuahkan hasil yang maksimal. Karena bisa mengembalikan harga yang awalnya mahal menjadi normal kembali

"Koordinasi yang kita lakukan betul-betul mendapatkan hasil yang maksimal, yang terasa, ujian-ujian 2 tahun berturut-berturut satgas pangan mampu mengembalikan harga di Idul Fitri dan Natal," pungkasnya.

Rekomendasi