Banjiri media sosial dengan konten positif, lawan terorisme

Media sosial menjadi lahan basah penyebaran hoaks (berita bohong) dan konten negatif. Bahkan kelompok tertentu menyebarkan konten propaganda radikal serta melakukan perekrutan anggota dengan cara membuat akun anonim.

Didi Syafirdi
Oleh Didi Syafirdi - Reporter
Banjiri media sosial dengan konten positif, lawan terorisme
rembuk aktivis 98. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Media sosial menjadi lahan basah penyebaran hoaks (berita bohong) dan konten negatif. Bahkan kelompok tertentu menyebarkan konten propaganda radikal serta melakukan perekrutan anggota dengan cara membuat akun anonim.

Praktisi Media Sosial Nukman Luthfie mengatakan penyebaran konten propaganda radikal sengaja untuk mengadu domba. Ada juga masyarakat yang menyebarkan tetapi tidak tahu efek dari penyebaran konten tersebut.

Menurut Luthfie, media sosial merupakan ruang tanpa batas di mana penggunanya dapat mengekspresikan diri seolah tanpa ada aturan dan batasan apapun. Padahal sudah jelas ada aturan dan undang-undang yang mengatur pelanggaran konten negatif seperti pornografi, ujaran kebencian, SARA dan juga terorisme.

"Pemerintah tidak cukup mengandalkan aturan tetapi juga harus aktif memberikan edukasi pada masyarakat umum serta memasukkan pelajaran tentang cara memanfaatkan media untuk kepentingan yang positif," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (13/8).

Salah satu cara positif yang bisa dilakukan, menurutnya, dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten yang dapat membangkitkan rasa cinta tanah air dan bela negara. Konten-konten bernuansa nasionalisme ini justru menjadi efektif sebagai penangkal konten negatif dan radikal di dunia maya.

"Apabila kita berbicara tentang bela negara di dunia maya, kita tidak hanya berbicara bagaimana caranya memerangi hoaks ataupun konten radikal, tetapi kita juga harus banyak menyebarkan konten kebaikan yang dapat menginspirasi orang lain," tutur Nukman.

Nukman menyarankan konten negatif di media sosial yang berpotensi mengadu domba dan memecah belah persatuan masyarakat harus dilawan dengan cara elegan. "Salah satu cara elegan adalah membanjiri media sosial dengan konten positif dengan membagi pengetahuan yang bermanfaat kepada sesama pengguna internet."

Indonesia sekarang hidup di era digital, akan lebih baik apabila media sosial digunakan sebagai lahan edukasi wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan dapat memperkokoh persatuan bangsa dan mampu membuat Indonesia tidak mudah terpecah belah dan terhindar dari provokasi radikal.

"Sebentar lagi kita merayakan HUT RI yang ke-73. Mari kita cintai tanah air ini dan menjadikan masyarakat yang cerdas di dunia maya. Serta bersama-sama bahu membahu untuk melawan kejahatan terorisme di dunia maya," pungkasnya.

Rekomendasi