Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengajak seluruh kader PDIP dan rakyat untuk mengingat dengan mendalam peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Hal ini disampaikan Hasto saat menghadiri pentas seni budaya peringatan di Telaga Jonge, Desa Pacarejo, Kecamatan, Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Jumat (27/7).
"Peristiwa tersebut merupakan skenario rekayasa politik Orde Baru untuk membungkam demokrasi arus bawah dengan kekerasan," kata Hasto dalam keterangan tertulis, Jumat (27/7).
Hasto menuturkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri selalu berpesan untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam menyikapi peristiwa kekerasan tersebut.
Sebagai pengingat, lanjut dia, pada tahun 1993, Megawati lewat Kongres Surabaya terpilih menjadi Ketua Umum PDI hingga periode 1998. Namun, terpilihnya Megawati tak mendapat restu dari pemerintah Soeharto sehingga dibuatlah PDI tandingan.
Difasilitasi pemerintah Orde Baru, PDI tandingan menggelar kongres di Medan dan memilih Soerjadi sebagai ketua umum. "Upaya massa PDI Soerjadi merebut kantor PDI Pro-Mega inilah yang memicu terjadinya peristiwa Kudatuli," ujar Hasto.
Kemudian, dalam perjalanannya menghadapi Pemilu 1999, PDI Pro-Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan yang kemudian dideklarasikan pada 1 Februari 1999.
Hasto menambahkan, dalam Pemilu 1999 PDI Perjuangan mampu merebut mayoritas hati rakyat Indonesia yang rindu akan perubahan. Dalam kontestasi paling demokratis pasca-Orde Baru, PDI Perjuangan menang dengan 33 persen suara.
"Rakyat menghendaki PDI Perjuangan untuk menang. Karenanya seluruh kader untuk mengetuk pintu masyarakat dalam rangka mendengarkan aspirasi untuk menjaga kepercayaan rakyat," ujarnya.
Dalam kesempatan sama, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Bambang Prastowo mengajak seluruh kader dan masyarakat yang hadir untuk mengheningkan cipta terhadap para korban peristiwa Kudatuli.
"Harus selalu diingat karena sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com