Pengamat Perkotaan sebut trotoar lebar akan untungkan PKL jika tak tepat lokasi

Yayat melihat, lalu-lintas pejalan kaki di sepanjang Jalan Sudirman Jakarta adalah menuju perkantoran, halte bus, dan stasiun kereta. Sayangnya, hal itu malah tak tercipta, terjadi miss-koneksi antar sidewalk dan utilitas publik tersebut.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Pengamat Perkotaan sebut trotoar lebar akan untungkan PKL jika tak tepat lokasi
Kondisi trotoar baru MH Thamrin. ©2018 Merdeka.com

Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna khawatir besarnya jalur pedestrian atau sidewalk di sepanjang Jalan Sudirman Jakarta, akan beralihfungsi sebagai lapak Pedagang Kaki Lima (PKL). Menurut Yayat, penyesuaian dilakukan kurang tepat guna, mengingat lalu lintas pejalan kaki yang tak terlalu padat.

"Jadi bukan sekedar ada ruang pejalan kakinya, sekarang ini semua dibuat lebar, ini malah bisa menguntungkan PKL, ojek online (Ojol), kita harus antisiapasi penyimpangan pemanfaatan ruas ruang lebar itu," kritis dia saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/7/2018).

Yayat melihat, lalu-lintas pejalan kaki di sepanjang Jalan Sudirman Jakarta adalah menuju perkantoran, halte bus, dan stasiun kereta. Sayangnya, hal itu malah tak tercipta, terjadi miss-koneksi antar sidewalk dan utilitas publik tersebut.

"Saat orang (yang rata-rata) pekerja kantoran itu turun dan berjalan kaki, mereka harus ada tujuannya, misal ke halte TransJakarta, atau stasiun KRL, tapi yang saya lihat sekarang ruang di sana itu tidak terkoneksi dengsn trotoar yang mengarah ke St. Dukuh Atas," kata dia.

Yayat menjelaskan, kini yang jadi persoalan adalah fungsi dari lebarnya sidewalk itu sendiri. Dia berpendapat, ruang yang besar namun tak tepat guna adalah pemborosan lahan.

"Jadi maksud saya kalau ada fungsi besar di situ, ruangnya digedein, tapi kalau ruang pejalan kakinya sedikit kenapa malah digedein?," heran dia menilai situasi trotoar Jalan Sudirman usai pemugaran.

Polemik di masyarakat terjadi, kala jalur pejalan kaki di Jalan Sudirman, Jakarta dihiasi jalur hijau atau taman petak berumput. Pasalnya jalur hijau tersebut malah dicap sebagai 'pemisah' yang membuat warga pengguna transportasi umum, seperti bus kota, taxi, atau ojek, mengaku kesulitan untuk bisa leluasa naik dan turun seperti biasa.

Reporter: M Radityo

Sumber: Liputan6.com

Halaman
Rekomendasi