Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno-Hatta mengaku kekurangan SDM, dalam melakukan pemeriksaan pesawat untuk memperoleh sertifikasi sanitasi pesawat.
Dari data miliknya, baru 90 pesawat dari 4 maskapai yang telah tersertifikasi kebersihan sanitasi dalam kabin pesawat. Sementara di Bandara Soetta ada 500 pesawat dari 30 maskapai yang setiap hari beroperasi.
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno-Hatta Anas Ma'ruf mengaku, keterbatasan SDM menjadi persoalan utama, ratusan pesawat belum tersertifikasi.
Menurutnya, saat ini satu tim pemeriksa hanya terdiri dari 5 petugas KKP. "Karena memeriksa pesawat untuk mendapatkan sertifikat sanitasi ini perlu teliti. Ditambah, kita melakukan pemeriksaan hanya pada saat RON (Remain Over Night)," kata Anas di Bandara Soetta, Rabu (4/4).
Diapun berharap, bisa meningkatkan kinerja jajaranya, untuk melalukan pengecekan kebersihan dan sanitasi pesawat. Sehingga mendorong persaingan yang lebih maju di dunia penerbangan.
"Apalagi saat ini memang penerbangan internasional menerapkan setiap pesawat diwajibkan memiliki sertifikat saat mendarat di negara tujuan," cetus dia.
Menurut dia, Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soetta mendata baru 90 pesawat dari 500 pesawat yang terbang dari dan menuju Bandara Soetta memiliki sertifikasi laik sanitasi. Jumlah itu berasal dari 4 maskapai, NAM Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Citilink dari total 30 maskapai yang beroperasi.
Di tempat yang sama, Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono menerangkan, maskapai yang telah lolos sertifikasi sanitasi harus memenuhi beberapa indikator standar kebersihan.
Di antaranya kebersihan atas air yang berada di maskapai, kondisi lingkungan di dalam maskapai serta, peralatan maskapai penerbangan yang bersih.
"Kondisi itu harus kita ciptakan agar para penumpang juga dapat nyaman dan terhindar dari penyakit atau virus," tambahnya.