Pulang kampung, Ketua DPR Bambang Soesatyo bernostalgia kenang sang ayah

Sedari kecil Bamsoet memiliki cita-cita menjadi dokter.

Dedi Rahmadi
Oleh Dedi Rahmadi - Reporter
Pulang kampung, Ketua DPR Bambang Soesatyo bernostalgia kenang sang ayah
Ketua DPR Bambang Soesatyo pulang kampung. ©2018 Merdeka.com

Ketua DPR Bambang Soesatyo menembus kabut pagi yang masih menyelimuti Dukuh Margosari, Desa Koripan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Minggu (25/2). Dukuh Margosari merupakan kampung halaman Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo.

Mobil yang ditumpangi Ketua DPR memasuki lokasi pemakaman Joyokusomo, Dukuh Margosari. Tempat ayahnya, S.E. Prijono dimakamkan. Politisi Golkar ini datang bersama Ibu, istri dan anak-anaknya.

Tak kuasa menahan haru, tetesan air mata tampak mengalir di pipi mantan Ketua Komisi III ini, saat berdoa dan tabur bunga di makam ayahanda.

Bamsoet mengenang kerasnya gemblengan ayahnya mampu menempa mentalnya hingga meraih kesuksesan. "Ayah merupakan panutan dan inspirasi terbesar dalam hidup saya. Tanpa bimbingan, gemblengan keras serta doa restu kedua orangtua, tidak mungkin saya bisa menjadi seperti sekarang ini," tutur Bamsoet.

Dia ke Semarang, untuk menghadiri acara penganugrahan PWI Jawa Tengah dan Yogyakarta acara peluncuran Buku 'Buya Syafii Maarif sebagai Seorang Jurnalis' dan Peresmian Gedung baru Suara Muhammadiyah di Yogyakarta. Bamsoet mengaku selalu menyempatkan mengunjungi makam Ayahanda yang wafat pada tanggal 6 Januari 1977, meski di tengah kesibukannya.

"Dari dulu sesibuk apa pun, saya pasti akan sempatkan waktu untuk berziarah mengunjungi makam ayah saya. Apalagi, walaupun saya lahir dan besar di Jakarta, sangat banyak kenangan sewaktu kecil di Desa Margosari ini yang merupakan kampung halaman ayah saya," ungkap Bamsoet.

Bamsoet mengungkapkan, semasa hidupnya sang ayah tak pernah menuntut dirinya mengikuti jejak sebagai tentara ataupun memintanya menjalani profesi tertentu. Sepeninggal sang ayah, Ibunya juga membebaskan Bamsoet memilih jalan hidup.

Sedari kecil Bamsoet memiliki cita-cita menjadi dokter. Karenanya, saat SMA Bamsoet mati-matian masuk IPA. Tapi, selepas lulus SMA ternyata ayah delapan anak ini justru masuk Fakultas Ekonomi, lanjut berkarir menjadi wartawan, pengusaha, dan sekarang menjadi politisi.

"Sejak kecil saya dibebaskan mau memilih karir apapun. Terus terang saya tidak memiliki cita-cita muluk menjadi pejabat negara. Semuanya mengikuti takdir Allah dan garis tangan," jelas Bamsoet.

Berlatar belakang tentara, ayahanda juga selalu menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kejujuran dan keberanian kepada Bamsoet dan seluruh anggota keluarga. Nilai-nilai tersebut selalu dipegang Bamsoet dalam mengarungi kehidupan selepas ayahanda pergi menghadap Sang Khalik.

"Dalam semua profesi yang saya jalani, nilai-nilai yang dulu ditanamkan Ayah selalu saya pegang tinggi dan menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan," jelas Bamsoet.

Ziarah ke makam ayahanda, Bamsoet mengaku merasakan kedamaian. Ia juga menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Ia berharap jika kelak menghadap Tuhan YME, bisa dipertemukan dengan ayah tercintanya.

"Ziarah ke makam menyadari bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, kehidupan di akhiratlah selamanya. Karena itu saya selalu mengajarkan kepada anggota keluarga berbagai nilai kebaikan yang dulu pernah diajarkan Ayah kepada saya. Insya Allah, kelak kami sekeluarga bisa kembali dipertemukan di Surga. Amin," senyum Bamsoet mengakhiri ziarah ke makam ayahanda.

Rekomendasi