Mabes Polri jelaskan kronologi polisi pose dengan jenazah begal

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto menjelaskan kronologi foto anggota polisi berfoto dengan jenazah pelaku begal. Awalnya ada informasi dari masyarakat telah terjadi pembegalan.

Wilfridus Setu Embu
Oleh Wilfridus Setu Embu - Reporter
Mabes Polri jelaskan kronologi polisi pose dengan jenazah begal
Ilustrasi Gedung Mabes Polri. ©2014 Merdeka.com

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto menjelaskan kronologi foto anggota polisi berfoto dengan jenazah pelaku begal. Awalnya ada informasi dari masyarakat telah terjadi pembegalan."Kemudian Tim Tekab 308 (Tim Khusus Anti Bandit) langsung menelusuri TKP. Mereka biasanya dua motor. Satu motor isi dua orang, satu motor isi tiga orang, karena kalau dua atau tiga orang itu bisa beraksi, bisa dapat tiga motor," kata Rikwanto di Wisma Bhayangkari, Mabes Polri, Rabu (5/4).Saat penangkapan, lanjut Rikwanto, tim mendapatkan perlawanan dari para pelaku hingga terjadi baku tembak. Akhirnya, pelaku berhasil dilumpuhkan."Dilakukan pengepungan dan ternyata tidak mulus. Akhirnya jadi baku tembak dan penyerangan terhadap petugas. Untuk menghindari korban di petugas akhirnya dilumpuhkan, tertembak," jelasnya. Kelima tersangka yang tertembak tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri Lampung. Namun, kemudian meninggal dalam perjalanan. "Pada waktu dibawa ke Rumah Sakit Polri di Lampung, diperjalanan meninggal dunia. UGD juga mengecek sudah meninggal, kemudian diarahkan ke kamar jenazah," tuturnya. Jenazah sempat diletakkan di taman, sebab saat itu Pukul 03.00 dini hari dan kamar jenazahnya belum buka."Jenazah mereka (tersangka) di mobil. Itu kan ada darah menetes. Menghindari di mobil bertumpuk, dibawa ke kamar jenazah, namun kamar jenazahnya belum buka. Jadi ditaruh dulu di taman, di rerumputan situ."Karena itu, Rikwanto menegaskan bahwa kelima jenazah itu diletakkan di taman bukan untuk difoto. "Jadi memang bukan untuk foto-foto sebenarnya. Ditaruh untuk memudahkan pada waktu petugasnya datang, dibuka, segera dimasukan," tegasnya. Dalam waktu menunggu itu ada yang mengambil foto. "Dalam konteks menunggu, ada yang coba dekat situ, ambil foto. Yang lain tanpa koordinir ikut-ikutan ambil foto. Akhirnya, jadilah sebuah foto," tutupnya.

Rekomendasi