Ketua Dewan Pembina Yayasan Yenbu Indonesia, Aip Syarifuddin, menyatakan sejak pemerintah Indonesia memutuskan kerjasama dengan PASIAD pada November 2015, maka Pribadi Bilingual Boarding School sudah tidak ada hubungan lagi. Kerjasama dibangun saat itu pun sebatas di bidang pendidikan."Sepengetahuan kami bahwa yayasan itu bergerak di bidang pendidikan," kata Aip di Depok, Senin (1/8).Mendengar kabar dari pemerintah Turki melalui Kedutaan Besarnya menuding ada keterkaitan sembilan lembaga pendidikan di Indonesia dengan gerakan Fethullah Gullen, tokoh dianggap dalang kudeta di Turki, pihak yayasan mengaku sangat kaget. Menurutnya, tudingan yang ditujukan pada lembaga-lembaga pendidikan yang dimaksud Pemerintah Turki tidak beretika. "Betul-betul melampaui kewenangan dan tata krama," ujar Aip.Dikatakan Aip, seharusnya Turki menghormati Indonesia. Karena selama ini hubungan kedua negara terjalin baik."Harusnya jangan intervensi dong," ucap Aip.Kondisi siswa di sekolah elit itu saat ini sudah berjalan seperti biasa. Siswa sudah bisa belajar dengan tenang dan nyaman, setelah Indonesia menolak permintaan Turki. Diakui, sesaat adanya rilis Dubes Turki, memang sempat ada reaksi dari siswa dan orang tua. Bahkan sampai muncul tagar #savepribadi di media sosial dibuat siswa."Saat ini siswa sudah seperti biasa. Kami berterimakasih pada pemerintah karena sudah memberikan rasa aman," tutup Aip.
Diancam ditutup, Pribadi Boarding School anggap Turki kelewatan
Mereka menyatakan kondisi sekolah sudah kondusif.
Rekomendasi