Salut, komandan-komandan polisi ini beri teladan pada anak buah

Polisi-polisi seperti ini patut diteladani. Anak buah pun akan sungkan dan mendapat contoh positif.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Salut, komandan-komandan polisi ini beri teladan pada anak buah
Kapolres push up. ©2016 Facebook.com/Divisi Humas Polri

Setiap pagi, seluruh personel kepolisian diwajibkan untuk mengikuti apel sebelum melaksanakan tugasnya sebagai pengayom masyarakat. Personel yang terlambat mengikuti apel biasanya mendapatkan hukuman berupa push up.Namun, sebuah pemandangan langka justru terjadi saat berlangsungnya apel di Kantor Kepolisian Resor (Polres) Minahasa Selatan. Seorang pimpinan menghukum dirinya sendiri karena membuat apel terlambat selama tujuh menit.Kapolres Minsel AKBP Arya Perdana harus menghukum dirinya sendiri karena membuat pelaksanaan apel tertunda selama beberapa menit. Sedangkan ratusan anak buahnya sudah berdiri di tengah lapangan menunggu arahan yang disampaikannya.Atas alasan itu, Arya langsung mengambil sikap. Dia menjatuhkan hukuman push up dengan membuka topi lapangan. Push up merupakan simbol rasa bersalah dalam dunia kepolisian. Melihat pimpinannya push up, seluruh personel tanpa perintah langsung mengikutinya."Tidak ada anak yang salah, yang salah adalah orangtuanya, tidak ada anggota yang salah, yang salah adalah komandannya," katanya saat memimpin pelaksanaan, Kamis (9/6) lalu, demikian dikutip dari Divisi Humas Polri."Saya sangat mengharapkan, keterlambatan pelaksanaan apel pagi ini adalah yang pertama dan yang terakhir terjadi di lingkungan kita," tutupnya.Sikap ini tentu saja menjadi contoh positif. Tidak hanya menghukum, Arya pun tak malu mengakui kesalahannya di depan anak buah. Lalu ada lagi Kepala Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Takdir Mattanete. Polisi berpangkat melati dua di pundaknya ini tak segan turun ke lapangan untuk mengunjungi anak buahnya.Seperti saat melakukan anjangsana kepada beberapa anggota yang sakit, Senin (30/5). Anggota yang divonis sakit permanen stroke saat dijenguk pun sampai terharu.Kedatangan Kapolres disambut dengan suasana haru dan sedih tampak pada mimik wajah para anggota dan PNS yang divonis sakit permanen (diabetes dan stroke) itu. Kapolres yang masih menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah anggotanya dan memberikan support dis ela-sela kesibukannya."Saat ini jangan memikirkan pekerjaan dulu, yang paling penting sembuh," ucapan penyemangat yang keluar dari AKBP Takdir Mattanete begitu melihat anak buahnya yang sakit diabetes ataupun stroke.

Mendengar dorongan semangat dari pucuk pimpinan, membuat Bripka Syaifullah yang tinggal di Asrama Polisi KP3 itu langsung menangis dan terharu. Bintara yang bertugas di Banit Sabhara dan divonis stroke sejak 27 Juni 2014 itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya dan meneteskan air mata."Saya mengucapkan banyak terima kasih, Komandan berkenan mengunjungi saya yang sakit. Saya juga mohon maaf tidak bisa masuk kerja," ujar dia seperti dikutip dari Divisi Humas Mabes Polri, dilansir merdeka.com.

Selain Bripka Syaifullah, AKBP Takdir Mattanete juga anjangsana ke empat anggota lainnya. Yaitu Aiptu Sumarto (Banit Laka Satlantas, sakit diabetes sejak 27 Mei 2015) yang tinggal di Jalan Kaliasin Gang Pompa; Penda Tk.1 Sahono (Banum Bag Sumda, sakit diabetes sejak 25 Oktober 2012), warga Jalan Manukan Lor II-A; Aipda Sunarto (Bamin Bag Sumda, sakit diabetes sejak 18 Desember 2013), warga Jalan Candi Lontar Lor Blok 44-S; dan Aiptu Parno (Bamin Bag Sumda, sakit diabetes).

Kegiatan ini menjadi agenda tetap tahunan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Takdir Mattanete bersama Ketua Cabang Bhayangkari Ibu Misly Herina Mattanete. Cerita lainnya Kapolres Inhu, Riau, AKBP Ari Wibowo. Memimpin korps bayangkara setingkat daerah kabupaten tak lantas membuatnya jumawa.Bermodal sepeda motor Honda Astrea, AKBP Ari terus menjelajahi wilayah kabupaten Indragiri Hulu. Kuda besi itu diakui AKBP Ari digunakannya sejak Sekolah Menengah Atas (SMA)."Itu motor saya sejak masih SMA (Sekolah Menengah Atas). Dulu motor itu kendaraan andalan saya, bahkan sampai sekarang juga. Memang hobbi pakai motor ketimbang naik mobil. Anginnya itu lho," kata AKBP Ari seperti dikutip dari Facebook Divisi Humas Mabes Polri.

Polisi berpangkat melati dua ini mempunyai alasan tersendiri masih mengandalkan kuda besinya itu. Salah satu pengakuannya karena lebih fleksibel ketimbang mengendarai mobil. "Jadi kalau kegiatan strong point (pengawasan lokasi rawan) dan hunting sistem (patroli) saya lebih suka pakai motor itu. Kalau kawasannya jauh barulah pakai mobil. Praktis kan, bisa keluar masuk jalan kecil, jadi pemantauannya bisa menyeluruh," kata AKBP Ari.Kenangan historis saat mengendarai motor Astreanya pun menjadi alasan lain dirinya mempertahankan kuda besinya itu. AKBP Ari mengatakan, motor itu memiliki nilai nostalgia tersendiri buat dirinya."Sejak saya di Semarang motor itu selalu ikut kemana-mana saya pindah. Dulu motor itu saya pakai bawa anak dan istri jalan-jalan sore, kalau sedang tidak bertugas," ungkapnya.Ari mengaku dirinya tidak malu untuk membawa motor bututnya itu. Dia merasa membawa motor bukan menjadi hal luar biasa dan menjadi ajang pencitraan untuknya. "Kenapa mesti malu, saya sudah biasa. Jadi nggak perlu dibesar-besarkan, apalagi buat pencitraan," singkatnya.Semoga saja semakin banyak polisi seperti ini.

Rekomendasi