Cerita Paramita, mantan pacar Tan Malaka yang lahir di tahun kabisat

Tan Malaka rupanya pernah berpacaran dengan keponakan mantan eks menteri luar negeri pertama Indonesia.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Cerita Paramita, mantan pacar Tan Malaka yang lahir di tahun kabisat
Tan Malaka. ©blogspot.com

Sosok perempuan bernama Yo Paramita Rahaju Abdurachman atau yang akrab disapa Paramita mungkin terasa asing bagi segelintir orang. Perempuan ini dilahirkan di Jakarta pada tanggal 29 Februari 1920 bertepatan pada tahun kabisat. Jika Anda menelusuri sejarah kemerdekaan Indonesia, perempuan ini ternyata telah memberi kontribusi yang luar biasa sebelum Indonesia merdeka. Paramita pernah menjabat Pembantu Pemimpin Badan Pembantu Prajurit Pekerja di bawah pimpinan Drs. Mohammad Hatta pada tahun 1944-1945. Dia juga pernah bekerja sebagai Asisten Direktur Departemen Kehakiman untuk riset sosial, saat lembaga itu masih berada dalam bimbingan Prof. Supomo, juga pernah menjadi Pembantu Menteri Luar Negeri di Kabinet Pertama Republik Indonesia. Zus Yo juga termasuk salah satu perempuan yang ikut melahirkan Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD). Selain peran strategis yang pernah diemban, ada kisah romantis yang tertoreh dalam sejarah hidup Paramita. Di mana dia pernah menjalin asmara dengan 'bapak republik', Tan Malaka. Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang dia dapatkan dari garis ibunya.Pertemuan keduanya terjadi di Jakarta semasa revolusi. Saat itu, Tan Malaka kerap mengunjungi kediaman kerabatnya secara sembunyi-sembunyi termasuk rumah Ahmad Soebardjo, paman dari Paramita Abdurachaman. Soebardjo sendiri adalah Menteri Luar Negeri pertama pasca kemerdekaan Indonesia.Dari buku 'Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia' yang ditulis Harry A Poeze menjelaskan, Paramita saat itu berusia dua puluh lima tahun. Ketika berjumpa dengan Tan Malaka, dia memperkenalkan diri sebagai tetangga yang tinggal di halaman rumah Soebardjo. "Sesudah Tan Malaka pergi dari sana pun dia masih bertemu dengannya (Paramita) berkali-kali, dan Paramita yang mempunyai perasaan kasih atau pun cinta memberi lebih banyak pengertian kepadanya," tulis Harry A Poeze dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2008 lalu.Dalam ulasannya, Paramita kerap bercakap-cakap lama dengan Tan Malaka. Bahkan mendapat kesempatan untuk mengenal lebih baik sosok bapak republik itu. Tan Malaka kemudian mulai menyukai Paramita karena pintar memainkan karya-karya dari Schubert. Kedekatan pasangan yang selisih usianya 20 tahun ini menimbulkan kecurigaan kerabat-kerabat dekat bahwa mereka telah bertunangan. Namun karena kegiatan politik Tan Malaka jauh lebih menyita perhatian ketimbang berpacaran, maka hubungan keduanya tidak sampai menuju pernikahan. Paramita menjadi perempuan terakhir yang mengisi kisah hidup Tan Malaka selain gadis Belanda bernama Fenny Struyvenberg dan gadis Filipina bernama Carmen. Untuk diketahui, ayahnya Paramita saat itu seorang bupati pertama, yang disebut sebagai pangreh praja, di daerah yang bernama Meester Cornelis yang sekarang daerah itu namanya sudah berganti menjadi Jatinegara. Paramita berkerabat dekat dengan Herawati Diah, karena ibunya merupakan saudara dari Ibunya Herawati Diah, dan sekaligus juga kakak dari Mr. Ahmad Subardjo. Ibunya bernama Siti Katidjah yang merupakan anak pertama dari Teuku Yusuf Djojodikromo, yang kabarnya seorang Uleebalang Aceh dari daerah Pidi.

Rekomendasi