Badan SAR Nasional (Basarnas), polisi hingga Pemprov Jawa Timur, kompak mengaku tidak bisa ikut menangani kasus jatuhnya Pesawat Super Tucano TT 3108 milik TNI AU, yang jatuh menimpa rumah di Malang, Rabu pagi (10/2) kemarin. Sebab, sesuai aturan, TNI AU sendiri yang menangani secara langsung kejadian nahas itu. Namun, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengaku, pihaknya siap membantu pihak TNI AU jika diperlukan."Untuk saat ini, kita masih tahap belasungkawa. Kami (Pemprov Jatim) siap membantu apa yang diperlukan dari pemerintah untuk membantu, bila diperlukan oleh pihak TNI AU. Tapi untuk saat ini, saya secara pribadi, maupun Pemprov Jatim mengucapkan belasungkawa atas peristiwa ini," terang Gus Ipul, Kamis (11/2). Gus Ipul juga mengaku, mengapresiasi kesigapan TNI menangani peristiwa nahas tersebut, termasuk rencana menjadikan lokasi kejadian sebagai monumen. "Kita, Pemprov Jatim juga sangat mengapresiasi tindakan TNI AU, yang sigap terhadap peristiwa ini. TNI AU juga mau memberi santunan terhadap korban, serta berencana menjadikan rumah yang menjadi korban sebagai monumen," akunya. Senada, Badan SAR Nasional (Basarnas) dan kepolisian, juga mengaku tidak bisa mengambil tindakan penuh terhadap kecelakaan pesawat milik TNI AU tersebut. Sebab, peristiwa itu, ditangani langsung oleh TNI AU. "Basarnas, sifatnya hanya membantu. Karena pesawat militer, sesuai aturan, ditangani langsung oleh TNI AU. Tapi Basarnas tetap mengirimkan delapan petugas untuk membantu," kata Deputi Bidang Operasi Basarnas, Mayjen Heronimus Guru di Surabaya. Kecuali, lanjut dia, jika kecelakaan itu terjadi pada alat transportasi udara atau pelayaran swasta dan umum, Basarnas bisa melakukan penanganan secara penuh."Selain itu, Basarnas tidak bisa melakukan tindakan tanggap darurat pada kecelakaan pesawat atau kapal milik TNI. Karena biasanya, peralatan pendeteksi lokasi, ELT (emergency locator transmiter) pada pesawat atau kapal militer tidak terdaftar di sistem pemantau Basarnas maupun Dirjen Perhubungan," kata dia. "Seperti kecelakaan pesawat TNI di Yogyakarta misalnya. Basarnas tahu ada sinyal lokasi pesawat, tapi kami tidak tahu itu siapa? Beda dengan pesawat atau kapal umum, kita tahu sinyal lokasi dan itu pesawat atau kapal apa," sambungnya. Pun begitu dengan keterangan yang disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol R Prabowo Argo Yuwono, yang juga dikonfirmasi terpisah. "Kalau soal kecelakaan itu ditangani langsung TNI AU. Polri sifatnya hanya membantu seperti mengatur lalu lintas dan semacamnya. Itupun sampai Polres Malang, Polda Jatim tidak mengirim tim labfor," dalihnya. Sebelumnya, Rabu kemarin, pesawat Super Tucano milik TNI AU jatuh menimpa rumah dan musala di Malang. Saat ini, proses evakuasi bangkai pesawat sudah dinyatakan selesai, selanjutnya dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Kepala Bagian Operasional Lapangan Udara Abdulrahman Saleh, Kolonel Penerbangan Fairliyawan mengatakan, operasi SAR telah selesai. Selanjutnya, secara teritorial diserahkan ke ke Kapolres Malang, AKBP Decky Hendarsono. "Sudah dievakuasi pilot, Mayor Penerbangan Ivy. Kita temukan juga Serma Saiful (co-pilot), (potongan tubuh) kita susupkan bagian tubuhnya. TKP kita serahkan kepada kepolisian," ungkapnya.
Pemprov Jatim siap bantu tangani Super Tucano yang jatuh di Malang
Basarnas, polisi dan pempro tak berwenang jatuhnya pesawat Super Tucano karena itu wilayah TNI.
Rekomendasi