Cerita duka dokter Nanda meninggal saat bertugas di Kepulauan Aru

Dalam waktu yang relatif singkat, dua kali kabar duka datang dari dunia kedokteran Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cerita duka dokter Nanda meninggal saat bertugas di Kepulauan Aru
Ilustrasi mayat. ©2014 Merdeka.com

Dunia kedokteran Indonesia berduka. Dokter Afrianda Naufan atau akrab disapa Nanda meninggal dunia saat mengikuti program internship di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Selasa (15/12) malam. Nanda memang memiliki riwayat diabetes.Nanda meninggal dunia saat mendapat penanganan intensif di UGD RSUD dr.M. Haulussy di Kelurahan Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Sebelumnya dia sempat dirawat empat hari di RSUD Cenderawasih, Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru.Sebelum dinyatakan meninggal dunia, Nanda terlebih dahulu terserang demam dan dehidrasi hingga membuatnya koma selama beberapa kali. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya tidak bisa tertolong lagi.Kementerian Kesehatan membenarkan kabar meninggalnya Nanda. Kepala Bidang Media Massa dan Opini Publik Kemenkes, Busroni mengatakan Nanda memang memiliki riwayat penyakit gula. Namun Busroni irit bicara seputar kabar duka ini."(meninggalnya) sakit, penyakit gula," ungkap Busroni singkat saat dikonfirmasi merdeka.com, Rabu (16/12).

Para dokter program internship yang bertugas di daerah terpencil mendapat pesangon (bantuan hidup dasar) sebesar Rp 2,5 juta per bulan sebelum dipotong pajak. Mereka harus membayar sendiri sejumlah uang untuk turut serta dalam program BPJS kesehatan.Kepala Opini Publik Kemenkes Anjari Umarjianto kepada Antara mengemukakan, keluarga almarhum akan mendapatkan piagam dan santunan sebesar enam kali gaji yakni sekitar Rp 15 juta.Dengan meninggalnya dokter Nanda, berarti sudah dua dokter muda yang menjalani program internship di Dobo, Aru meninggal dalam tugas.Sebelumnya, dokter Donisius Giri Samudra (Andra) juga meninggal dunia karena sakit pada 11 November 2015.Jika dokter Nanda sempat dievakuasi ke RSUD Ambon, bedanya dokter Andra waktu itu tidak bisa dievakuasi karena keterbatasan transportasi udara.


Dokter Andra meninggal setelah mengalami demam tinggi dan bintik merah usai datang dari Jakarta. Andra dirawat di RSUD Cendrawasih, Dobo. Saat itu kondisi Andra lemah. Dia pun seperti tak sanggup berbicara. Suhu badannya mencapai 40 derajat celcius.Berbagai observasi dilakukan dokter untuk mengetahui sakit Andra. Kesimpulan didapat, Andra terkena infeksi campak dan radang otak. Kondisi Andra tak kunjung membaik, sampai dia dimasukkan ke ICU. Saat itu kesadaran Andra makin merendah panasnya mencapai 42 derajat celcius.Berbagai upaya medis untuk menyelamatkan Andra tak berhasil. Dia mengembuskan napas terakhir di RSUD Cendrawasih.Kala itu, Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Muhammad Faqih mengungkapkan blak-blakan nasib para dokter yang magang di lokasi terpencil atau terisolir."Jangan bicara kesejahteraan deh. Perlindungan dan persiapan kita di lokasi. Seperti ini tidak bisa hanya Kemenkes saja yang mempersiapkan, tetapi harus seluruh kementerian," kata Faqih di Tangerang, Banten, Jumat (13/11).

Rekomendasi