Keramahan Musi Amin dan cerita onthel teman latihan

Amin dikenal pribadi rajin dan kerja keras. Dia mengawali karirnya di dunia lari secara tidak sengaja.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Keramahan Musi Amin dan cerita onthel teman latihan
Musi Amin. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Para pedagang di Pasar Wajak, Kabupaten Malang, rata-rata sudah mafhum dengan sosok si penjual bakso ceking itu. Selain dikenal sebagai atlet, juga dikenal ramah dengan para pedagang lain.Tukang pakir, Dodik Suryo Purwanto (35), mengenal Musi Amin sebagai pekerja keras, tetapi tetap bersosialisasi dengan tetangga. Setiap bertemu dengan teman selalu menyapa dan ngobrol."Saya tetangga juga temannya di sini. Teman tahlil juga di rumah," kata Dodik.Sementara penjual tempe, Sulfanan (42), mengaku selalu berhubungan baik dengan Amin. Saban hari, Amin datang ke rumahnya meminta air limbah tempe buat ternaknya."Sering atlet anak didiknya diajak ke rumah. Mereka diajak ambil air kedelai setiap sore untuk ternaknya," ujar Sulfanan.Amin juga adik kelas Sulfanan. Dia mengenal Amin sebagai sosok yang baik, sederhana, tidak banyak omong, dan apa adanya. "Dia menguras bekas limbah tempe, mengambil limbahnya untuk pakan. Setiap hari," ujar Sulfanan.Amin memilih berjualan bakso karena mertuanya juga seorang penjual bakso. Dia diminta melanjutkan usaha mertua, sementara keluarganya berlatar buruh tani dan peternak."Kalau dulu saya sih buruh mencangkul di sawah. Mencari rumput untuk sapi, sorenya berjualan. Dari dulu merawat punya orang, buruh," kata Amin.Amin mengaku menjadi atlet secara tidak sengaja. Awalnya ada teman sudah ikut latihan, suatu saat mengajaknya. Saat itu, katanya untuk persiapan pertandingan di Surabaya."Saat itu diminta lari 25 putaran di Stadion Gajayana. Langsung pelatihnya memanggil, 'kamu tiap minggu ke sini ya.' Akhirnya setiap malam Minggu bilang ke majikan izin untuk latihan," ujar Amin.Majikannya pun sudah hafal kalau setiap pekan Amin mesti menyisihkan waktu buat latihan lari. Dia pun harus ke Stadion Gajayana dengan naik sepeda onthel. Baru kalau punya uang dia naik angkot dengan membayar Rp 300.Amin kemudian bergabung dengan IPAM (Ikatan Pemuda Atlet Malang) di Kota Malang. Karena saat itu di Kabupaten Malang belum ada klub olahraga lari."Jatim Open 1997 menjadi awal mendapatkan piala, kategori 5000 meter. Setelah itu diajak gabung ke kejurnas," lanjut Amin.Amin adalah atlet nasional peraih perak di Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2004 di Palembang. Dia juga pernah meraih Perunggu di PON 2008. Amin mewakili Indonesia di SEA Games 2014 di Hanoi, Vietnam. Rekor dalam lari 5.000 meter ditempuh dalam waktu 14 menit 58 detik. Sementara di kelas 10 ribu meter diselesaikan selama 31 menit.

Rekomendasi