QRIS Antarnegara Dijajaki BI dan Timor Leste

BI dan bank sentral Timor Leste meneken MoU sistem pembayaran dan inovasi digital. QRIS antarnegara ikut dijajaki. Ada data lonjakan transaksi QRIS.

Nurmayanti
Oleh Nurmayanti - Reporter
QRIS Antarnegara Dijajaki BI dan Timor Leste
Cara Daftar QRIS untuk Pedagang (sumber: qris.id)

Bank Indonesia (BI) dan Banco Central de Timor-Leste (BCTL) menandatangani Nota Kesepahaman untuk memperkuat hubungan dan kerja sama di bidang sistem pembayaran serta inovasi keuangan digital.

Penandatanganan dilakukan Gubernur BI Destry Damayanti dan Gubernur BCTL Hélder Lopes berlangsung dalam rangkaian FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Kedua bank sentral berkomitmen memperkuat kerja sama sistem pembayaran dan setelmen, termasuk pertukaran informasi dan penguatan hubungan kelembagaan. Inisiatif ini juga mencakup eksplorasi konektivitas layanan pembayaran lintas batas.

BI menegaskan pentingnya kesepakatan tersebut sebagai pijakan pengembangan konektivitas pembayaran antara kedua negara.

"Kesepakatan ini menjadi landasan pengembangan konektivitas pembayaran antara Indonesia dan Timor-Leste, termasuk penjajakan QRIS Antarnegara sebagai salah satu implementasi kerja sama," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

Langkah ini diharapkan mendukung transaksi dan aktivitas ekonomi Indonesia–Timor Leste sekaligus mewujudkan pembayaran lintas batas yang lebih mudah, efisien, aman, dan inklusif.

Lonjakan Transaksi QRIS 67%

Transaksi QRIS tumbuh 67,2% secara tahunan (year-on-year) pada Agustus 2026. Peningkatan tersebut berjalan seiring dengan meluasnya adopsi pembayaran digital; jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 67 juta orang.

Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, basis pengguna itu setara seperempat populasi nasional dan mengubah kebiasaan transaksi harian masyarakat.

"QRIS, kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya, sudah satu per empat dari penduduk Indonesia menggunakan QRIS," kata Destry dalam konferensi pers FEKDI X IFSE 2026 di Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut Destry, pergeseran ke ekosistem digital membuat penggunaan uang tunai kian terbatas, termasuk di pasar tradisional.

"Jadi tentu saja kalau kita lihat, karena banyak yang menggunakan sistem digital, penggunaan cash kan jadi terbatas. Kita bisa lihat di beberapa acara, kalau kita sekarang belanja di pasar, mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang uang cash," ujar Destry.

Rekomendasi