Syukuri rezeki jadi kunci hidup Musi Amin

Musi Amin mengaku bersyukur meski kini penghasilannya tidak terlalu banyak.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Syukuri rezeki jadi kunci hidup Musi Amin
Musi Amin. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Sebelum berjualan menetap di depan Pasar Wajak, Kabupaten Malang, Musi Amin berjualan keliling dari kampung ke kampung. Bahkan, beberapa tahun lalu, saat dagangannya belum habis, atlet lari Sea Games juga mendorong gerobaknya berkeliling."Saat pelanggan belum banyak, jam 2 kalau belum laku keliling kampung. Tetapi Alhamdulillah, sekarang cukup di sini. Kalau belum habis, diparkir di depan rumah saja," kata Amin di tempatnya berjualan di Pasar Wajak, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jumat (11/12).Amin adalah atlet nasional peraih perak di Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2004 di Palembang. Dia juga pernah meraih Perunggu di PON 2008. Amin mewakili Indonesia di SEA Games 2014 di Hanoi, Vietnam. Rekor dalam lari 5.000 meter ditempuh dalam waktu 14 menit 58 detik. Sementara di kelas 10 ribu meter diselesaikan selama 31 menit.Nasib Amin kini jauh dari hiruk pikuk latihan. Dia lebih sering berkutat dengan bakso dan gerobak. Keinginannya menjadi Pegawai Negeri Sipil juga tak kunjung tercapai, kendati sudah 15 tahun menjadi penjaga kebun di sebuah sekolah dasar. Amin juga memelihara sapi dengan sistem bagi hasil dari tetangganya."Sudah cukup, rezeki itu dibuat cukup ya cukup, disyukuri saja," ujar Amin.Saban Jumat, Amin libur berjualan dengan alasan waktunya yang pendek karena harus salat Jumat. Biasanya malam Jumat, dia menghitung pendapatannya."Kamis malam biasanya dihitung. Kalau dihitung-hitung untuk kebutuhan sehari-hari sudah cukup," ucap Amin.Setiap hari, Amin menabung Rp 20 ribu di koperasi. Uangnya digunakan buat berjaga-jaga saat bulan puasa. Sebab selama Ramadhan dia pasti libur berjualan sebulan penuh."Ikut nabung Rp 20 ribu per hari, untuk persiapan puasa libur total. Simpanannya di situ, lainnya diambil untuk kebutuhan sehari-hari," lanjut Amin.Amin biasa hidup dengan kerja keras. Baginya, hal itu akan mengantarkan kepuasan seperti yang diinginkan akan bisa diraih."Saya pertama Training Centre, brebes mili (menangis) ingat dengan orangtua yang di rumah. Biasa sehari-hari di rumah makan dengan kerupuk dan sambal, tapi di lokasi TC makannya enak-enak," imbuh Amin.Amin menempati rumah di perkampungan dengan jalan sempit bersama istri tercinta, Rini Susanti, dan anak keduanya. Rumah itu merupakan warisan dari orangtuanya. Amin juga bersyukur karena uang dari bonus atlet digunakan membantu adiknya yang butuh uang. Sehingga jatah rumah adiknya dibeli dan dibangun."Bagian dari almarhum orangtua saya tempati, yang depan bagian dari adik saya, saya beli karena adik saya butuh uang," tutup Amin.

Rekomendasi