Balada Muktamar NU, dari isu penculikan sampai intervensi parpol

"Saya mengimbau, stop pihak yang mengiming-imingi (money politics) di pemilihan rais aam, karena itu menghancurkan NU."

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Balada Muktamar NU, dari isu penculikan sampai intervensi parpol
Muktamar NU. ©2015 Merdeka.com

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, berjalan panas. Bahkan sejak proses registrasi, muktamirin sudah dibuat kesal oleh panitia penyelenggara.Mulai dari pembahasan tata tertib pemilihan rois aam yang menggunakan metode Ahlul halli wal aqdi (Ahwa) atau tidak. Sampai kepada peserta dobel dan fiktif juga mewarnai muktamar kali ini.Rapat pleno pertama bahkan sampai beberapa kali mengalami penundaan. Diprediksi, muktamar kali ini akan berjalan molor."Kami siap saja menyiapkan kondisi kalau mundur. (Mundur) Kemungkinan ada, saya tidak tahu sampai kapan, kalau mundur satu hari, dua hari, haduhhh," kata Ketua Panitia Muktamar wilayah Jatim, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul sambil memiringkan pecinya dengan nada kecewa, Minggu (2/8)."Panitia bingung saja, janggal saja. Menemukan beberapa fakta dobel-dobel kartu atau ini karena masalah human error kita masih sedang teliti. Memang ada kendala teknis, komputer mati. Sebenarnya yang namanya registrasi sudah disiapkan dengan baik dan benar. Tadi pagi dimulai ternyata sekarang belum selesai," terang Gus Ipul.Persoalan yang terjadi di muktamar kali ini bertambah pelik. Isu intervensi parpol tertentu juga merebak di arena muktamar seiring pro dan kontranya pemilihan rois aam dengan metode ahwa.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid, mencium adanya intervensi partai politik (parpol) di Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan, dia juga mengindikasi adanya iming-iming untuk memuluskan sistem Ahwa dalam proses pemilihan rois aam."Saya mengimbau, stop pihak yang mengiming-imingi (money politics) di pemilihan rais aam, karena itu akan menghancurkan NU. Banyak yang bertanya pada saya, Muktamar NU apa PKB, banyak yang tanya itu," terang Gus Sholah, sapaan akrab KH Sholahuddin Wahid dalam konferensi persnya, Minggu (2/8).Menurut adik kandung almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, saat ini, NU pelan-pelan kehilangan ruh jihadnya, justru yang muncul adalah semangat pragmatisme."Kalau mau pragmatisme, ya jangan ke NU, ke partai saja. NU itu ormas, kemudian jadi partai, kembali lagi jadi ormas, lalu membuat partai. Sehingga banyak ke partai. Paradigma Parpol harus dipisahkan dengan NU. Itu (paradigma parpol masuk NU) harus kita cegah," tegas calon Ketua Tanfidz PBNU ini.Gus Solah juga menyampaikan ketidaksepakatannya, pemilihan rais aam menggunakan sistem Ahwa. Sebab, aturan dalam organisasi ditentukan oleh AD/ART."Di situ tidak ada kata Ahwa. Kata musyawarah mufakat dimaksudkan sebagai Ahwa, ini kan terserah muktamirin. Keputusan Munas dan Kombes itu tidak ada kaitan dengan keputusan muktamar. Ngerti organisasi apa enggak sih. Yang memutuskan itu muktamirin," tegasnya lagi."Dalam pleno, yang memutuskan muktamirin. Saya setuju Ahwa, tapi setelah AD/ART dirubah, tidak tahun ini. Tapi semuanya tetap diputuskan oleh muktamirin," sambungnya.

Panasnya muktamar NU tidak hanya sampai proses teknis saja. Bahkan kabar penculikan muktamirin dari arena muktamar mencuat jelang pemilihan pimpinan ormas Islam terbesar se-Indonesia ini.Bila sebelumnya isu penculikan menimpa Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Malik Madaniy, kini menimpa ribuan peserta.Setelah melakukan pendataan, panitia Muktamar mendapati sejumlah peserta hajatan akbar rapat organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak berada di pemondokan masing-masing.Ketua Unit Pelayanan Peserta di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Muin, mengungkapkan hingga Minggu (2/8) pihaknya hanya menampung 291 peserta. Jumlah itu jauh dari kuota yang ditetapkan oleh panitia sebesar 513 peserta."Kami tidak tahu ke mana perginya peserta yang seharusnya tinggal di pondok kami," kata Muin.Pondok Pesantren Darul Ulum dalam rencana Seksi Akomodasi sebelumnya diploting untuk menampung peserta dari Wilayah dan Cabang Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.Data yang berhasil dihimpun menyebutkan, dugaan penculikan peserta juga terjadi di dua pondok pesantren tuan rumah Muktamar lainnya, yakni di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Mamba'ul Ma'arif, sebelumnya diploting menampung 804 peserta, namun hingga saat ini hanya ada 465 peserta.Sementara di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, dari sebelumnya diploting menampung 798 peserta, saat ini hanya ada 438 peserta yang singgah.Data sebaliknya justru terjadi di Pondok Pesantren Tebuireng. Sesuai dengan pengakuan Kiai Salahudin Wahid atau Gus Solah, saat ini di pesantren yang diasuhnya singgah lebih dari dua ribu peserta Muktamar.Padahal sesuai dengan ploting dari panitia pesantren tersebut hanya akan menampung 900 peserta. Ketua Panitia Daerah Muktamar, Saifullah Yusuf, mengakui adanya dugaan penculikan peserta tersebut."Saat ini kami masih memverifikasi ulang, kok bisa namanya ada di registrasi, tapi (orangnya) tidak ada di pesantren," terang Gus Ipul.

Rekomendasi