Ada-ada saja ulah tiga warga ini. Usai pesta miras di kawasan nol kilometer Malioboro, atau tepatnya di depan Istana Negara Yogyakarta, mereka kencing sembarangan di halaman istana.Alhasil, aksi mereka diketahui Kapolsek Gondomanan, Kompol Heru Muslimin yang di waktu bersamaan sedang patroli bersama anak buahnya di sekitar Gedung Agung, Rabu (24/6) malam."Saya biasa patroli malam dengan anggota jalan kaki. Pas di Gedung Agung saya lihat ada anak muda yang minum, kemudian kami amati," katanya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (25/6).Setelah itu ketiganya jalan sempoyongan ke arah pintu gerbang selatan. Kemudian dengan santai ketiganya kencing ke arah pintu gerbang, hingga air kencing masuk ke halaman istana."Begitu melihat kami langsung bergerak dan mengamankan mereka. Setelah kami cek ternyata mereka mabuk miras oplosan," ujarnya.Ketiga pemuda tersebut yakni Herlambang (22) warga Karangmojo Gunungkidul, Yulianto (18) Warga Semanu, Gunungkidul dan Andri (35) warga Sosrowijayan Wetan, Kota Yogyakarta.Mereka digiring ke Mapolsek Gondomanan. Di sana mereka hanya diberikan ceramah tentang bahaya miras, dan meminta ketiganya tidak mengulangi perbuatan mereka."Tidak kita tahan. Kita berikan pemahaman, supaya jangan mabuk-mabukan, apalagi ini bulan puasa dan jangan kencingi Gedung Agung. Mereka hanya kami beri sanksi mengepel masjid," terangnya.Menanggapi peristiwa itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti marah. Menurutnya, hal tersebut bukan saja tidak sopan tetapi juga melanggar hukum.
Advertisement
"Itu jelas pelanggaran, Gedung Agung kok dipakai buat kencing, bukan cuma tidak sopan tapi sudah sudah melanggar hukum," kata Haryadi saat dihubungi merdeka.com, Kamis (25/6).Dia akan berkoordinasi dengan pihak terkait supaya tidak terjadi lagi kejadian seperti itu. Dia tak segan akan menindak tegas jika ada yang berani mabuk serta kencing di halaman Gedung Agung."Kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait," ujarnya.Sementara itu, kepala UPT Malioboro Syarif Teguh menjelaskan sebenarnya sudah ada upaya pemerintah untuk membuat toilet umum di sekitar lokasi. Namun sampai saat ini belum bisa dilaksanakan karena masalah lahan."Kalau toilet portabel kita sudah sediakan di depan kantor Pos Besar, namun di Gedung Agung masih terkendala lokasi, kemungkinan akan dibuat toilet bawah tanah dan tambahan toilet di belakang halte seberang Gedung Agung," terangnya.Selain menambah toilet pihaknya sementara ini akan melakukan penyemprotan supaya bau pesing di sekitar lokasi hilang."Akan disemprot supaya tidak bau, nanti mendekati hari raya Idul fitri biasanya salat sampai di sana, jadi kita akan semprot," terangnya.Bukan kali ini saja Yogyakarta tercoreng oleh perilaku warganya. Akhir April 2015, tujuh pemuda foto tidak senonoh di kawasan tugu. Dalam foto yang tersebar di Facebook, mereka terlihat sumringah sambil menurunkan celana sehingga hanya terlihat celana dalam.Foto itu dinilai melecehkan simbol kota Yogyakarta dan cepat sekali menyebar di media sosial. Gambar itu langsung menuai komentar pedas dari para warga dunia maya. Mereka menilai perbuatan para pemuda itu melecehkan kebudayaan leluhur."Ono sik reti wong-wong aneh iki ra? Nglecehke Jogja tenan ki. Kudu diusir po dikasuske yo? (Ada yang tahu orang-orang aneh ini? Sangat melecehkan Jogja. Harus diusir atau dikasuskan?)," komentar seseorang bernama Yanuar Rizky Pramusesa waktu itu.Setelah ditelusuri, foto menampilkan tujuh pemuda itu rupanya diunggah sejak setahun lalu. Berdasarkan penelusuran merdeka.com, foto itu diunggah pada 22 Maret 2014.
Advertisement
Dalam foto tersebut ditautkan lima nama pengguna Facebook, yaitu Eris Setiyawan, Rhino Sudrajat, Ary Southsquad, Farah Khoirunnisa Fatimah dan Hasbi Warga Waluyo. Meski beberapa netizen mengecam foto itu, tapi lainnya meminta foto itu tidak disebarkan karena bisa menghasut dan memancing amarah warga Yogyakarta.Banyak pihak menyesalkan perbuatan anak muda di Yogyakarta tersebut. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bisa membuat Yogyakarta tak lagi berhati nyaman. Dan pastinya, tindakan mereka tidak sesuai dengan norma.