Pada 2007, sebuah yayasan bernama Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa (YBKB) didirikan dengan sejumlah program pelayanan masyarakat yang mereka miliki. Berbekal koordinasi sukarelawan dan para pegiat kegiatan sosial kemanusiaan, YBKB menjalankan beberapa agendanya seperti Good Life Society, yang mengurusi pelayanan pendidikan bagi anak, dana Majelis Dzikir Istighosah Al-Balad dengan kegiatan kerohaniannya.Dengan tingginya intensitas bertemu antara relawan 'Rizal' dan 'Nisa' (istilah pria dan wanita di YBKB), maka sejumlah relawan yang umurnya telah cukup menikah meminta kepada pihak yayasan agar dibuatkan wadah, yang mengakomodir niat baik mereka untuk membangun biduk rumah tangga.Maka sejak 2008, di YBKB telah berlangsung bibit dari konsultasi sistem taaruf, bagi mereka yang ingin mencari pasangan tanpa jalur 'pacaran' seperti yang biasa dilakukan di jaman ini. Mulai saat itu, hingga Komunitas Taaruf Membangun Umat (KTMU) terbentuk pada 2013, tak kurang dari 30 pasangan yang telah dimediasi oleh yayasan tersebut hingga lanjut ke jenjang pernikahan.Hal itu diutarakan oleh salah satu pembina dan konsultan taaruf di KTMU, bernama Angga Suryanegara. Sebagai salah seorang yang pernah menjalani proses taaruf saat menjadi relawan di YBKB dulu, dirinya membenarkan jika YBKB dan KMTU sudah berhasil mengantarkan pasangan-pasangan yang berniat menikah dengan melalui proses taaruf."Karena kan dengan seringnya bertemu antara relawan yang rizal (pria) dan relawan yang nisa (wanita), mungkin kan lama-lama ada yang tertarik. Tapi komitmennya sama, sama-sama enggan untuk pacaran. Jadi kalau suka sama suka ya nikah aja," ujar Angga saat ditemui di kantor YBKB, Jalan Raya Tengah, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (28/5).Angga menjelaskan, saat dirinya dipertemukan oleh istrinya saat ini melalui proses taaruf, tak ada hal yang dipahaminya sama sekali saat itu. Ia mengaku pihak yayasan melalui sejumlah ustadz-nya lah yang membantu dan membimbing dirinya beserta calon pasangan, untuk saling beradaptasi dan mempersiapkan akad nikahnya."Awalnya kita juga nggak ahli-ahli banget dalam urusan taaruf ini, tapi sama-sama belajar bagaimana pengaplikasiannya. Sampai akhirnya kita mengadakan seminar KTMU, terbuka untuk umum, waktu itu diadakan di Ragunan dan mengundang ustadz-ustadz yang paham masalah ini untuk memberikan pencerahan. Peserta seminarnya waktu itu lumayan banyak, hampir seratus orang lah kira-kira," ujar Angga.Lebih lanjut, Angga menjelaskan kenapa taaruf merupakan salah satu pilihan tepat saat ini. Karena mekanisme taaruf memberi kesempatan kepada mereka yang telah siap menikah, dengan proses dan mekanisme yang tidak berbenturan dengan kaidah hukum Islam yang menghindari zina.Dirinya juga mengaku, hal itu sejalan dengan visi dan misi dari YBKB tempatnya bernaung, yang dalam programnya gencar memberikan pelayanan sosial terhadap masyarakat, sesuai dengan syariat Islam."Kenapa harus taaruf, ya karena sesuai dengan filosofi Yayasan YBKB ini, dan seperti yang diajarkan Islam, bahwa kita nggak ingin hidup itu sampai 'ngerusak' lah, makanya pilar-pilarnya itu di Yayasan ini salah satunya adalah taaruf. Ini penting kan untuk menjembatani dan membimbing siapapun yang ingin menikah dan sesuai dengan ajaran Islam," pungkasnya.
Taaruf, semacam biro jodoh berbasis syariah?
"Awalnya kita juga nggak ahli-ahli banget dalam urusan taaruf ini, tapi sama-sama belajar bagaimana pengaplikasiannya."
Advertisement
Rekomendasi