Wuri Wuryani, WNI pertama di organisasi pelarangan senjata kimia

Wuri merupakan WNI pertama yang berkerja di OPCW dan fokus pada pelarangan penggunaan senjata kimia.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Wuri Wuryani, WNI pertama di organisasi pelarangan senjata kimia
Kartini Indonesia penerima Nobel. ©kimia.lipi.go.id

Wuri Wuryani menjadi tokoh wanita Indonesia penerima penghargaan Nobel Perdamaian melalui Organization for the Prohibition of Chemical Weapon (OPCW) pada tahun 2013. Selain membawa bendera OPCW, dia juga membawa nama baik LIPI sebagai sosok yang berkontribusi penting memberantas senjata kimia."Itu tahun 2013, itu diterima oleh organisasi di mana saya bekerja, tapi petinggi kami menyadari bahwa ini tidak bisa dicapai sendirian. Jadi semua staff dapat pengakuan itu," kata Wuri kepada merdeka.com, pekan kemarin.Wuri mengaku, dirinya mengabdi di OPCW mulai tahun 1999 hingga 2009. Wuri merupakan WNI pertama yang berkerja di OPCW dan fokus pada pelarangan penggunaan senjata kimia."Kami fokus di senjata kimia. Saya itu yang pertama bekerja di sana, dan belum ada yang diterima lagi di sana," ucap Wuri.Wuri menjelaskan bahwa keterlibatannya dengan OPCW bermula dari desakan teman-teman dan atasannya untuk melamar di lembaga tersebut. "Secara terus terang saat itu saya katakan pendidikan saya bukan kimia. Akhirnya dari 14 pelamar WNI saya termasuk satu-satunya yang dinyatakan lulus pelatihan calon inspektur OPCW," sambung dia.Meski sempat terganjal karena Indonesia belum meratifikasi aturan Konvensi Senjata Kimia, akhirnya Wuri ini diangkat menjadi Analytical Chemist Inspector dan Duty Officer pada Sekretariat Teknis OPCW pada 1999. Dalam kesempatan itu, Wuri juga menyayangkan kondisi peneliti Indonesia yang menurutnya berkualitas namun belum banyak berkecimpung di dunia internasional."Sayang sekali orang Indonesia itu banyak yang berkualitas. Saya peneliti LIPI dari tahun 1982, saya happy mengabdi di OPCW, karena hasil penelitian saya selalu beralih ke laci (tidak dikembangkan pemerintah). Saya sedih kerja penelitian itu pakai uang rakyat tapi berakhir di laci," jelas Wuri.Bagi dia tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat senjata kimia berbahaya dihancurkan di depan matanya. "Semoga enam negara Israel, Myanmar, Angola, Mesir, Korut dan Sudan Selatan bisa meratifikasi aturan Konvensi Senjata Kimia, juga proses senjata kimia di AS dan Rusia dipercepat. Sehingga tekad untuk membebaskan dunia dari senjata kimia terwujud," harap dia.

Rekomendasi