Kenapa masyarakat masih percaya orang-orang seperti Agus Santoso?

Masyarakat tertekan dengan kondisi perekonomian sehingga sosok Agus Santoso laksana dewa penyelamat.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Kenapa masyarakat masih percaya orang-orang seperti Agus Santoso?
Agus Santoso (kanan). ©2015 Merdeka.com

Masyarakat Malang sedang dihebohkan dengan sosok Agus Santoso. Sosok 32 tahun ini memiliki sekitar 600 orang pengikut yang disebut sebagai anggota keluarga besarnya (komunitas). Agus dipercaya memiliki warisan tak terbatas jumlahnya. Dari 600 orang pengikutnya itu, sekitar 200 orang di antaranya tinggal bersama di sebuah hotel di Kota Batu, dengan biaya hidup ditanggung olehnya. Agus juga menjanjikan semua pengikut akan diumrahkan secara gratis dan semua utang akan dilunasi. Pengikut Agus rata-rata memiliki utang di atas Rp 100 juta, bahkan sampai Rp 5 miliar.Mereka yang bergabung dengan Agus dijanjikan umrah gratis dengan syarat membayar biaya pendaftaran Rp 150.000. Anggota baru akan berangkat umrah bersama, setelah utang mereka dilunasi nantinya.Sosok Agus Santoso layaknya peri dalam dongeng yang mewujudkan segala impian jadi nyata. Benarkah utang Rp 5 miliar bisa dilunasi hanya dengan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 150.000? Benarkah kekayaan Agus tak terbatas? Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, tidak sedikit masyarakat tertipu janji-janji surga, investasi bermodal minim namun memberikan imbal hasil fantastis. Lantas kenapa masyarakat masih percaya janji-janji semacam itu?Sosiolog Musni Umar menilai, sosok Agus Santoso bak oasis di padang pasir. Menurut Umar, masyarakat saat ini sedang terhimpit kesulitan. Harga-harga kebutuhan masyarakat melonjak namun penghasilan tak bergerak naik. Kondisi ini menjadi sangat berat dialami oleh masyarakat kelas bawah. Oleh sebab itu, ketika muncul sosok laksana 'peri', masyarakat tidak lagi ragu untuk segera memercayainya."Masyarakat kita itu datang dari kalangan menengah ke bawah, ketika ada orang menawarkan bantuan, mereka segera percaya. Mereka tidak punya pilihan untuk keluar dari kehidupan mereka itu kecuali ada tawaran seperti itu," kata Musni kepada merdeka.com, Jumat (20/3).Faktor lain, lanjut Musni, impian masyarakat yang bak pungguk rindukan bulan. Tiada cara bagi masyarakat berpenghasilan minim untuk mewujudkan impian bermodal besar kecuali dengan munculnya sosok seperti Agus Santoso. "Ada juga bermimpi umrah. Mereka tidak mendapatkan jalan keluar untuk mimpi mereka kecuali dengan munculnya sosok-sosok seperti itu," ujar Musni. Faktor pendidikan masyarakat, menurut Musni, turut menjadi faktor banyaknya masyarakat yang tergiur janji-janji surga diembuskan oleh sosok-sosok seperti Agus Santoso. Minimnya pendidikan masyarakat menjadikan mereka sasaran empuk. "Ini kan bukan hanya sekarang terjadi, sejatinya masyarakat belajar. Tapi di dalam suasana masyarakat terhimpit kesulitan, biasanya dia tidak belajar dari pengalaman. Selain itu, yang tertipu kan biasanya dari kalangan masyarakat dengan ekonomi dan pendidikan rendah," imbuh Musni.Oleh sebab itu, Musni menilai sudah saatnya pemerintah juga aparat hukum melindungi masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan janji-janji surga dari sosok laksana 'peri' tersebut. Berbagai cara bisa dilakukan, semisal pendekatan dari pihak RT, RW bahkan pihak kelurahan agar waspada dan tidak merasa nyaman dengan janji-janji surga yang berembus di masyarakat. "Informasi dari mulut ke mulut itu kan cepat sekali, ini bahaya sekali. Sebelum lebih lanjut sebaiknya pemerintah baik, lurah, bupati mengingatkan kepada masyarakat untuk bisa keluar dari persoalan tidak dengan cara seperti itu, itu namanya simsalabim, itu tidak mungkin terjadi," ucap Musni.Pihak kepolisian, menurut Musni, sudah saatnya turun tangan untuk mencegah agar tidak banyak masyarakat yang tertipu. "Harus ada pencegahan agar ini tidak meluas, bisa dari polisi, ulama, camat, kades, bupati dan sebagainya," tutup Musni.

Rekomendasi