Kebiasaan baru anak hipster Jakarta: Berkebun di lahan sempit kota

Erin mengakui bahwa tidak semua jenis tanaman akan berhasil ditanam di Jakarta.

Mohammad Yudha Prasetya
Kebiasaan baru anak hipster Jakarta: Berkebun di lahan sempit kota
berkebun. © perfectgardeningtips.com

Berkebun merupakan hal yang sepertinya sulit dilakukan di perkotaan, apalagi di Jakarta yang sarat dengan berbagai masalah lingkungan. Mulai dari polusi asap kendaraan bermotor, lahan yang sempit hingga buruknya kondisi tanah dan udara. Tapi, ternyata hal bukan sesuatu yang mustahil.Seperti yang digeluti oleh Erin Rahayu, seorang pegiat “Jakarta Berkebun", yang merupakan gerakan menanam berbagai tumbuhan yang tengah populer di kalangan kaum urban di Ibu Kota, dan kini sudah mulai menyebar ke kota-kota metropolitan lain di Tanah Air.Meski tergolong pemula, Erin menanam banyak jenis tumbuhan, mulai dari peppermint, jeruk purut, tomat hijau, selada, markisa, daun salam, buah sirsak, belimbing wuluh, basil, hingga tanaman yang tidak bisa dimakan seperti zodia, dan tanaman anti nyamuk."Kalau kita kerja di Jakarta kan pusing. Berangkat kerja nggak ketemu matahari, pulang kerja juga nggak ketemu matahari. Kadang kalau pulang kerja, lagi capek aja dengan nyiram tanaman itu bisa bikin seger lho. Jadi sebagai refreshing," kata Erin saat dihubungi, Kamis (5/2).Erin mengakui bahwa tidak semua jenis tanaman akan berhasil ditanam di Jakarta, dengan iklim yang sangat panas seperti ini. Dirinya mengatakan, faktor matahari dan kelembapan udara juga sangat menentukan, bagi keberhasilan penanaman pohon-pohon tersebut."Tergantung juga tanamannya. Contohnya ada tanaman selada merah, warna merah atau tidaknya tergantung dari sinar matahari. Semakin dijemur merahnya akan semakin kelihatan," jelas Erin.Erin mengaku, selain masalah cuaca, hama merupakan musuh besar bagi siapapun yang memiliki kebun. Wjumlah hama seperti belalang, tikus, ulat, bahkan kutu, kerap menjadi kendala pertumbuhan tanaman, sehingga ia harus memakai ramuan khusus yang biasa disebut pestisida nabati.Sedangkan untuk tikus, Erin mengantisipasi dengan penyimpanan pot yang lebih tinggi, agar tidak bisa dijangkau oleh hewan pengerat itu. "Kalau belalang, biasanya ketahuan saat lagi menetes banyak, kadang tanaman isinya anak belalang semua. Biasanya saya tangkap, terus kasih ke ayam," tuturnya.

Meski menyenangkan, Erin bukan memulai hobi barunya tanpa kendala. Gagal panen bukan sekali dua kali ia hadapi. Menurutnya, kadang setiap orang memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, dengan membayangkan bahwa begitu menanam pasti langsung panen. Padahal tidak selalu seperti itu.Hal itu pun diakuinya saat ia menanam kangkung, tanaman yang terhitung paling mudah, sering kali tidak tumbuh sesuai harapan. "Sudah tunggu sampai satu bulan dan kangkungnya masih pendek, sedangkan yang lain sudah panen. Saya pikir, ‘kenapa gue nggak bisa ya’," ungkap Erin.Erin mengatakan, untuk mendapatkan hasil kebun optimal, tanah adalah kunci utamanya. Maka, hal utama yang penting diketahui bila ingin berkebun adalah mengenali jenis tanah yang ada di rumah. Apakah tanah pasir, lempung atau gembur. Beruntung bila tanah di rumah Anda gembur.Namun, menjadi tugas tambahan lagi jika kondisi tanah yang ditemui tidak baik, seperti tanah lempung. Seperti kebun milik Jakarta Berkebun di Casa Goya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.“Pengembalian tanahnya itu setahun karena setiap kita gali ketemunya batu sama plastik. Kayak kemarin kita panen singkong, nggak begitu bagus karena tanahnya banyak batu, pas kita angkat itu yang nyangkut di singkong ada plastik dan tutup botol,” pungkasnya.

Rekomendasi