Pasar Santa sebagai salah satu pelopor pasar tradisional di bawah pengelolaan PD Pasar Jaya, kini bertransformasi menjadi salah satu tempat gaul di Jakarta Selatan. Sejumlah hipster dan berbagai kalangan bahkan kerap menjadikannya basis kongkow selepas penatnya beraktivitas.Ternyata, Pasar Santa ini juga menyimpan magnet tersendiri dimana kalangan pejabat pemerintahan juga kerap mengunjunginya. Seperti yang pernah dilakukan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, dan Dirut PD Pasar Jaya, Djangga Lubis.Saat menghadiri re-launching Pasar Santa pada November tahun lalu, keduanya malah memanfaatkan 'waktu kongkow' mereka untuk mencukur rambut. Keduanya pun memilih tempat cukur bergaya klasik ala anak vespa, yang ternyata dimiliki oleh vokalis dari salah satu unit rock garage The Brandals, yakni Eka Annash."Ini kaget banget, ini aja nggak tahu kalau keduanya ini menteri. Ini baru hari pertama buka juga," ungkap Eka kepada merdeka.com di lokasi pada Sabtu (1/11/2014) silam.Dalam kunjungannya ini, Puspayoga selaku menteri KUKM itu juga sesumbar, dengan mengatakan bahwa pihaknya bakal membantu membangkitkan anak muda kreatif untuk berbisnis. Dia berharap pemerintah daerah mampu mendorong terciptanya pasar seperti Pasar Santa di tempat lain, dengan mendesak agar PD Pasar Jaya lebih menyempurnakan dekorasi Pasar Santa, agar lebih menarik minat pengunjung bertandang ke sana."Saya ingin di depan itu ada tag line atau semacam jargon gitu, tulisannya; Pasar Gaul," kata Gobel.Meski sudah tampil lebih baik, Gobel mengkritik suasana yang panas lantaran kurangnya sirkulasi udara. "Tinggal fasilitas lighting-nya jangan gelap juga. Kemudian udara harus disempurnakan biar nggak pengap. Tapi ini sudah awal yang bagus. Bisa jadi model dan contoh untuk di daerah lain," tegasnya.Sementara itu, Djangga Lubis menegaskan bahwa hidupnya pasar ini oleh inisiatif pemuda. Pihaknya juga memberi kemudahan untuk biaya kontrak. "Kami pun dukung dengan memberi kemudahan sewa Rp 3 juta per tahun supaya banyak lagi yang isi," ujar Djangga.
Advertisement
Selain itu, Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat dan Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi, juga pernah mengunjungi pasar gaul ini. Saat itu, Djarot mengatakan bahwa invasi dari banyaknya toko waralaba di setiap sudut kota Jakarta, telah mengancam keberadaan pasar-pasar tradisional. Dirinya pun mengapresiasi Pasar Santa yang kini bisa menjadi salah satu percontohan bagi pasar-pasar tradisional lainnya, dalam melawan invasi toko waralaba."Blusukan saya kali ini seperti memberi PR buat Pemprov DKI, dalam membatasi jumlah pasar swalayan dan toko waralaba. Kita akan fokus ke pasar tradisional dan pasar rakyat. Minimarket dan waralaba akan kami kendalikan. Kami melihat jumlahnya sudah sangat over, dan berpotensi mematikan pedagang kecil," kata Djarot."Kami akan cek perizinan dari toko-toko waralaba itu. Bayangkan saja, dalam satu deret wilayah yang berdekatan, waralaba itu bisa ada 4 sampai 5 toko sekaligus, makanya harus diatur pertumbuhan mereka. Toko waralaba itu semuanya punya tanggung jawab terhadap produk-produk lokal. Harusnya diprioritaskan agar produk dalam negeri pasti masuk ke toko mereka. Makanya nanti akan kami lihat perizinannya. Bukan hanya moratorium, nantinya juga akan kita stop perizinan waralaba itu, dan sekaligus dikurangi," katanya menambahkan.