Kisah inspiratif kurban: Pengurus masjid itu menangis terharu

Merdeka.com kembali menyarikan kisah inspiratif pemulung berkurban itu jelang Idul Adha ini.

Al Amin
Oleh Al Amin - Reporter
Kisah inspiratif kurban: Pengurus masjid itu menangis terharu
mak yati dan suami. ©2012 Merdeka.com

Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan kurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan dua tahun lalu. Merdeka.com kembali menyarikan kisah inspiratif tersebut jelang Idul Adha ini.Saat itu, pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu."Saya nangis, tidak kuat menahan haru," ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (26/10/2012).Juanda menceritakan, pada Selasa, seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elite Tebet Mas, Jaksel."Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk kurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis," kata Juanda.Juanda lalu mengajak merdeka.com melihat dua kambing itu di halaman masjid. Ada yang berwarna coklat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain.Dia menceritakan pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah salat Idul Adha yang mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum salat.Siapa mereka?

Pemulung yang berkurban di Masjid Al Ittihad Tebet bernama Yati (60) dan Maman (35). Sehari-hari mereka berprofesi sebagai pemulung. Pasangan suami istri ini tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet, Jakarta Selatan.merdeka.com mengunjungi rumah Yati usai Salat Idul Adha. Juanda, pengurus masjid Al Ittihad ikut menemani.Yati membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak ada barang berharga di pondok 3x4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala.Wanita asal Madura ini bercerita soal mimpinya bisa berkurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging."Saya ingin sekali saja bisa berkurban. Malu seumur hidup hanya minta daging," katanya.Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Legendaris Ali Sadikin itu."Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? ya numpang hidup saja," katanya ramah.Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.

"Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo," akunya.Juanda yang menjaga masjid Al Ittihad terharu saat Yati bercerita mimpi bisa berkurban lalu berusaha keras mengumpulkan uang hingga akhirnya bisa membeli dua ekor kambing."Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil," gumamnya. Dari mana Mak Yati mendapatkan uang untuk kurban?

Wanita asal Pasuruan, Jawa Timur itu membeli kedua hewan tersebut dari hasil memulung selama selama tiga tahun."Saya nabung tiga tahun untuk beli dua ekor kambing. Yang besar itu saya beli Rp 2 juta, yang kecil Rp 1 juta," kata Yati saat berbincang dengan merdeka.com di rumahnya pada 2012 silam.Selama tiga tahun tersebut, wanita yang telah menetap di Jakarta sejak 1965 itu mengaku, dari setiap Rp 25 ribu uang yang didapatnya dari mengumpulkan barang bekas, sebagian disisihkan untuk membeli hewan ternak tersebut."Kita mau berkurban dapat rezeki ya niatannya, yang penting kita enggak punya hutang sana sini. Ya Alhamdulillah namanya rezeki," ujar Mak Yati.


Kisah keiklasan Mak Yati dalam berkurban terdengar hingga ke telinga Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri. Saat menyambangi gubuk Mak Yati di dalam kawasan lapangan Tri Jaya, Jalan Tebet Barat Raya, Jakarta Selatan, Salim memberikan sumbangan dan menjanjikan akan membuatkan rumah di kampung wanita tersebut."Nanti dibikinin rumah sederhana di Pasuruan. Emak sudah tua, tidak pantas jadi pemulung," ujar Salim. Sejak hari itu Mak Yati menjadi buruan media.

Setelah maraknya pemberitaan media massa tentang pemulung yang berkurban dua kambing di Hari Idul Adha, kehidupan Emak Yati (60) kini sibuk. Ia yang biasanya memulung dari pagi hingga sore hari pun harus siap melayani puluhan wartawan yang menghampirinya sejak pagi."Haduh, maaf yak dek, kalo mau wawancara saya gak bisa dulu soalnya mau dibawa jalan-jalan. Maaf yah kalo mau nanti malam aja," ujarnya saat ditemui merdeka.com di rumah gubuk miliknya di daerah Tebet Barat, Jakarta Selatan.Hingga sore ini saja, ia sudah melayani empat stasiun televisi swasta yang meliput dirinya sejak pagi hari tadi. Bahkan setelah kedatangan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri pada Sabtu (27/10) ia pun menerima 12 wartawan yang menemui di rumahnya."Hari ini Ada TVOne, ada SCTV, bingung dah emak nih, pas minggu ada 12 wartawan rumah emak aja gak muat," jelasnya.Kebaikan Mak Yati mendapat perhatian dari banyak orang. Salah satunya pasangan suami istri Rainer Husein Daulay. Pengusaha perhotelan tersebut ingin menaikan haji dirinya beserta suami."Mak Yati hebat, tersohor di dunia. Saya sama ibu datang ke sini enggak bawa apa-apa, tujuan bapak ke sini mau angkat Mak Yati dan Pak Maman langsung naik haji," ujar Mak Yati menirukan perkataan Rainer saat itu.

Yati, pemulung yang berkurban dua kambing saat Idul Adha mendapat hadiah naik haji. Naik haji pun merupakan berkah tersendiri, sebab dibiayai ribuan orang dermawan.Kabar tersebut bermula saat kedatangan Rainer Husein Daulay seorang pengusaha perhotelan. Rainer tidak hanya sendiri, namun ditemanin oleh istrinya. Menurut Yati, pasangan tersebut ingin menaikan haji dirinya beserta suami karena sempat melihat berita tentang dirinya di media online."Mak Yati hebat, tersohor di dunia. Saya sama ibu datang ke sini enggak bawa apa-apa, tujuan bapak ke sini mau angkat Mak Yati dan Pak Maman langsung naik haji," ujar Mak Yati menirukan perkataan Rainer saat itu.Namun, biaya naik haji gratis ini diperoleh dari hasil donatur 2.000 orang yang simpati pada kehidupan Mak Yati dan suaminya Maman."Banyak yang simpati ke saya 2.000 orang untuk disumbangkan naik haji," kata dia.Perempuan kelahiran Desa Gunung Sahari, Pasuruan, Jawa Timur ini mengaku tidak memiliki firasat maupun mimpi mengenai naik haji gratis tersebut. Menurut dia, hal ini merupakan rezeki dari Allah SWT.

"Dibilang senang ya gimana, kita cuma ngelanjutin ya gimana," ucap dia.Mak Yati yang datang ke Jakarta Tahun 1965 karena tidak sengaja terbawa kereta pengangkut sapi ini mengatakan, ada tiga pesan yang dikemukakan oleh Rainer untuk persiapan naik haji tahun 2013."Pesannya harus jaga kesehatan, harus banyak salat, pesannya doain bapak (Rainer) sehat, panjang umur dan jauh dari musibah," kata wanita dengan suara berat itu. Lantas bagaimana Mak Yati sekarang?

Sukses bertani jagung di kampungnya


Sosok Mak Yati bisa menjadi inspirasi kita semua untuk berani memutuskan, bahwa perubahan dan keinginan yang kuat agar lepas dari kemiskinan itu kunci dari kesuksesan hidup.Untuk menghabiskan masa tua, Mak Yati berkebun jagung di kampung halamannya di Pasuruan, Jawa Timur. Dia mendapat hadiah rumah dari kementerian sosial RI karena hidupnya menginspirasi banyak orang."Kami bersyukur, bahwa Mak Yati tidak hanya memutuskan pulang kampung dan mendapatkan program bedah rumah dari Kementerian Sosial (Kemensos), tapi juga sukses dengan kebun jagung," ujar Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri saat inspeksi mendadak (sidak) di Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (25/8).


Menurut Mensos, potret masalah sosial merata terjadi di berbagai pelosok di negeri ini. Masih sering kita mendapatkan persoalan tersebut sesuai tipologi wilayahnya, semisal keterlantaran, kemiskinan, ketunaan, kebencanaan maupun keterpencilan. "Sebagian masalah sosial itu mampu diselesaikan, walaupun belum seluruhnya sesuai catatan statistik," kata dia.Sosok Mak Yati bisa menjadi inspirasi kita semua untuk berani memutuskan, bahwa perubahan dan keinginan yang kuat agar lepas dari kemiskinan itu kunci dari kesuksesan hidup.
Rekomendasi