Saksi sebut kampanye Andi di Kongres Demokrat 2010 mirip pilpres

"Pak Andi lebih meriah waktu kampanye calon. Lebih gebyar, lebih meriah," kata Mubarok.

Aryo Putranto Saptohutomo
Saksi sebut kampanye Andi di Kongres Demokrat 2010 mirip pilpres
Ahmad Mubarok bersaksi di sidang Anas Urbaningrum. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Dalam sidang Anas Urbaningrum, saksi Ahmad Mubarok mengatakan ada perbedaan mencolok dalam kampanye antara Anas Urbaningrum dan Andi Alifian Mallarangeng, saat keduanya memperebutkan jabatan Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres empat tahun silam. Menurut dia, justru Andi terlihat jor-joran saat kampanye, ketimbang Anas."Pak Andi lebih meriah waktu kampanye calon. Lebih gebyar, lebih meriah. Mirip pilpres. Mulai dari spanduk, umbul-umbul, dan iklan," kata Mubarok saat bersaksi dalam sidang Anas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (14/7).Namun, Mubarok mengakui ada praktik bagi-bagi uang dari tim sukses Anas pada Kongres Demokrat 2010 di Bandung. Bahkan, dia mengistilahkan pembagian fulus itu dengan 'bom'. Fakta itu ternyata tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan Mubarok dibacakan di dalam sidang.Dalam BAP, pada putaran kedua Kongres Partai Demokrat 2010 sempat ada jeda sebelum memulai pemilihan. Saat itu dia mengaku sempat mengarahkan para pendukung Anas dan membagikan 'bom'."Iya," kata Mubarok.Menurut penjelasan Mubarok di dalam BAP, pemberian 'bom' dimaksud adalah mengguyur para ketua Dewan Pimpinan Cabang sebelumnya memihak pesaing Anas, Andi Alifian Mallarangeng. Selain ketua DPC, para koordinator wilayah turut kecipratan fulus."Saya tidak tahu siapa yang perintahkan berikan bom. Alasan tim sukses atau relawan beri bom adalah untuk mencegah adanya money politic. Sehingga tidak ada pengaruh memilih kandidat tertentu. Saya tidak tahu berapa nilai pemberian bom tersebut," kata Mubarok dalam BAP dibacakan jaksa.Saat ditanyakan, Mubarok mengakui hal itu. Tetapi, dia menampik pemberian uang hanya tertuju kepada satu wilayah."Hanya satu daerah rawan. Itu pun saya dengar cerita dari salah seorang panitia yang saya lupa siapa namanya," sambung Mubarok.Mubarok memaparkan, pemberian fulus tidak hanya sekali, tapi dilakukan pada beberapa tahap. Yakni saat pertemuan relawan Anas dengan ketua DPC sebelum kongres, pertemuan dengan kepala dpc pendukung Anas sebelum deklarasi, saat deklarasi Anas menjadi calon Ketua Umum Partai Demokrat, dan saat kongres di Bandung ketika ongkos tiket dan transport diganti dengan panitia."Iya, berganti-ganti, karena setiap rapat beda. Ada Rp 20 juta, ada Rp 50 juta," lanjut Mubarok.

Rekomendasi