Mastin, kabar gembira bagi konsep iklan gamblang

Lirik jingle Mastin yang verbal, disertai pengulangan frasa “Mastin Good” tiga kali, masuk dalam kategori verbal.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Mastin, kabar gembira bagi konsep iklan gamblang
Mastin kulit manggis. ©istimewa

Iklan Mastin adalah fenomena tersendiri dalam kancah pariwara di Indonesia. Selama dua bulan terakhir, materi iklan produk herbal dari kulit manggis ini menjadi perbincangan khalayak, dari pelbagai segmen dan usia.Para pengguna jejaring sosial ramai-ramai memparodikan iklan tersebut. Terutama pada bagian lirik jingle “kabar gembira untuk kita semua, kulit manggis kini ada ekstraknya”. Sampai-sampai netizen mengunggah panduan kord jingle Mastin yang didominasi kunci F, C, dan D. Salah satu pengguna Internet merasa format jingle ini adalah modifikasi nada-nada solutif iklan obat. “Itu kan kayak iklan obat, cuma bungkusnya beda. Nadanya simpel, cocok sama visualisasinya. Dan terutama liriknya itu, kabar gembira, hahaha," kata Swadesta (28), musisi asal Jogja saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (11/7).Seorang narablog bernama Feri Ariyatmoko berhasil melacak sumber yang pertama kali mempopulerkan jingle iklan Mastin. Dari awalnya populer situs canda di 1cak.com, semakin meroketlah produk herbal kulit manggis itu setelah di-tweet oleh selebritis Twitter Raditya Dika. Selepasnya, Mastin menjadi viral di jejaring sosial Tanah Air.Adapun pengamat periklanan senior Totot Indrarto (2003) punya penjelasan tersendiri mengenai resep kesuksesan iklan di Indonesia. Untuk masyarakat yang masih didominasi budaya lisan ini, tagline harus diupayakan memakai pola tutur verbal.Dalam perbincangannya dengan Senior Executive Creative Director  Hotline Advertising, Subiakto Priosoedarsono, resep ini diyakini mujarab buat memasarkan produk di Tanah Air. "Masyarakat kita terbiasa dengan segala sesuatu yang verbal. Jadi, iklan yang verbal, baik dengan gambar maupun kata-kata, akan lebih berhasil,” kata Subiakto.Lirik jingle Mastin yang verbal, disertai pengulangan frasa “Mastin Good” tiga kali, masuk dalam kategori verbal seperti diyakini oleh para praktisi periklanan senior. Dalam iklan itu, bintang iklan perempuan yang bernyanyi riang, terlihat bahagia, dan memakai busana cerah, mewakili imej pengguna rutin mastin.Pesan-pesan itu disampaikan gamblang (lateral). Totot menyatakan, iklan yang apa adanya dan memaparkan tagline dengan visualisasi, dialog, atau nyanyian, masih efektif bagi konsumen di negara ini. Dan dalam kursus brand management yang pernah dia ikuti, keniscayaan itu kembali diulang sebagai mantra utama. “Masyarakat kita cara berpikirnya lateral. Karena itu buatlah iklan secara lateral agar mudah dipahami konsumen,” tulisnya. Mastin, dengan segala hal yang unik darinya, bukan format iklan yang baru. Justru ini kabar gembira bagi pengiklan lain, karena jurus lama rupanya masih bisa bertahan merebut perhatian konsumen Indonesia.

Rekomendasi