Meski kondisi tubuh tak normal, hal itu tidak menyurutkan semangat para penyandang keterbatasan di bawah ini. Semangatnya luar biasa, bahkan melebihi orang yang memiliki tubuh normal.Mereka tak mau dibelaskasihani. Tapi mereka bangun dan bangkit untuk berbuat sesuatu, berkarya serta bekerja.Hasilnya pun luar biasa, asal ada kemauan pasti ada jalan. Ya seperti yang dilakukan oleh orang-orang penyandang keterbatasan ini.Berkarya dan bekerja di tengah keterbatasan rupanya tak menyurutkan semangat orang-orang di bawah ini. Siapa saja mereka?
Advertisement
Pria lumpuh jual perkakas, bisa beli Harley
Kisah inspirasi perjuangan tanpa lelah ditunjukkan oleh Wisono Basuki, berusia sekitar 50 tahun yang tinggal di Kota Malang. Meski dalam kondisi lumpuh kakinya dan tak bisa bicara, Wisono bekerja dengan berjualan perkakas dapur hingga dia mampu membeli motor Harley Davidson, meskipun motor keluaran lama. Demi menyambung kehidupan, Wisono Basuki berjualan alat-alat dapur, alat pijat dan mainan anak dari kayu. Menariknya, dia berjualan menggunakan sepeda motor Harley Davidson, yang dipenuhi tulisan dan stiker. Tulisan dan stiker yang menutupi hampir seluruh bodi motor itu bukan sembarangan hiasan. Terpampang di antaranya tulisan, 'Pramuka Luar Biasa' dan 'Basuki cari uang untuk membeli sepeda motor HD'. merdeka.com bertemu dengan Wisono Basuki di sebuah warung di Malang, Minggu (26/1). Kami mencoba menghampiri Wisono dan melakukan wawancara. Ada kendala karena Wisono ternyata tidak dapat bicara, tapi mengerti jika diajak komunikasi. Kemudian datang seorang lelaki teman dekat Wisono yang menjadi perantara pembicaraan kami.Wisono Basuki menderita cacat sejak lahir, kakinya lumpuh dan tidak bisa bicara. Meski cacat, dia tidak mau menyerah dan ingin selalu mandiri. Dia buktikan kegigihannya itu dengan berjualan alat-alat dan mainan dari kayu. Awalnya pria yang beralamat di Jalan JA Suprapto III/93 Kota Malang itu berjualan menggunakan sepeda kayuh, hingga akhirnya dia bisa membeli sepeda motor Harley Davidson. Motor gede itu dia gunakan sebagai sarana jualannya sehari-hari. Awal-awal dia jualan dia harus dibopong karena keterbatasan fisiknya, namun hal itu tak menyurutkan semangatnya. Dia tidak mau meminta-minta ataupun diberi uang oleh orang. Sikapnya tidak mau minta-minta kami lihat di warung pada perjumpaan tersebut. Saat itu, Wisono sambil merangkak keluar dari sebuah rumah makan di Kota Malang. Seorang pengunjung rumah makan yang merasa iba mencoba memberi dia uang namun dia mengabaikan. Dia kemudian duduk di teras rumah makan dengan memainkan mainan kayu, barang dagangannya. Dia baru mau menerima uang jika orang lain membeli barang dagangannya. Dia menjual alat-alat itu dengan harga 20 ribuan dengan omzet tak menentu.
Advertisement
Bisa keliling dunia berkat usaha keset
Sebelum usahanya membesar seperti sekarang, Irma Suryati selalu memotivasi diri sendiri untuk terus melangkah. Di atas meja jahit yang digunakan untuk membuat keset, Irma selalu berkeyakinan dalam hati kalau suatu hari nanti dengan kerajinan keset perca yang dibuatnya bisa berkeliling dunia."Dulu setiap memulai pekerjaan membuat keset di atas mesin jahit, saya selalu berkeyakinan kalau suatu hari nanti akan bisa keliling dunia dari usaha keset. Ternyata, kalau kita memiliki keinginan yang kuat, Allah pasti akan membuka jalan. Sampai saat ini, saya sudah mengunjungi 6 negara untuk mengikuti pameran," ungkap perempuan kelahiran Semarang, 1 September 1975 ini kepada merdeka.com, Minggu (9/6).Dari pengalamannya mengikuti pameran, Irma mengakui respons yang didapat di luar negeri cukup bagus. Dia mengatakan produk kesetnya yang berbahan baku limbah kain perca, diapresiasi oleh masyarakat di luar negeri. Kondisi itu, ungkapnya, berbeda dengan respons yang didapatnya saat pameran di dalam negeri. Meski begitu, Irma mengakui keikutsertaannya dalam ajang pameran kerajinan di luar negeri dimanfaatkannya untuk memperluas pemasaran."Saat berhasil menjadi juara I lomba kewirausahaan muda tingkat nasional Tahun 2007 yang diselenggarakan Kemenpora, saya mendapat kesempatan bepergian ke luar negeri. Saat itu, saya memilih pergi ke Australia. Selama di Australia, saya manfaatkan waktu di sana untuk mencari pembeli yang bisa menjualkan produk di sana," paparnya.Hasilnya, Irma sukses membuka pasar baru di negeri kanguru itu. Setiap bulan, Irma mengirim sekitar 30 ribu lembar keset ke negara yang berada di selatan Pulau Jawa itu. Meski begitu, Irma mengakui pasar penjualan keset dari bahan kain perca masih terbuka luas. "Kami sering kekurangan stok, karena banyaknya permintaan yang belum bisa terpenuhi," jelasnya yang saat ini membutuhkan bahan baku 6 ton kain perca untuk produksi keset setiap bulan.Persoalan itu, kemudian diantisipasinya dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat umum yang benar-benar ingin berusaha. Bahkan, Irma mengakui banyak penyandang cacat yang bekerja di tempatnya untuk mendirikan usaha secara mandiri. "Sampai saat ini, banyak penyandang cacat yang kita latih sudah memiliki usaha sendiri dalam membuat kerajinan keset. Bahkan tak sedikit pula, warga masyarakat lainnya juga sudah mendirikan usaha sendiri selepas mengikuti pelatihan dari saya," jelasnya.Irma mengakui, kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang menurutnya memiliki potensi dan keteguhan hati dalam menjalankan prinsip usaha. Selama proses menuju kemandirian, mereka dibantu Irma dalam hal pemasaran, distribusi hingga bahan baku dan alat produksi. "Alhamdulillah, sampai saat ini sudah banyak yang berhasil dan menyebar di beberapa kota," katanya yang saat ini memiliki banyak mitra binaan di Kabupaten Banyumas.Berbagi kisah sukses dalam mengembangkan usaha, bagi Irma juga harus ditularkan kepada setiap orang yang ingin berusaha untuk berkembang. Tekad itulah yang kemudian membuat Irma mulai dikenal masyarakat luas dengan segala kisah dalam bunga rampai hidupnya. "Niat saya hanya berdayakan masyarakat dan yang penting tidak ada pengangguran di masyarakat. Yang pasti saya ingin semua penyandang cacat tetap bisa berdaya dan tidak menyusahkan orang lain," ucap Irma yang setiap 15 hari dalam sebulan, aktif berkeliling dari kota ke kota untuk memberikan pelatihan dan motivasi.Kini, Irma masih berkeinginan untuk membuat sebuah buku tentang kisahnya sebagai penyandang keterbatasan fisik yang jatuh bangun dalam mengembangkan usaha keset. Tak hanya itu, Irma kini juga terus melakukan inovasi dengan mengubah model keset setiap bulan. Pun saat ini, ia mulai membuat bermacam kerajinan lain seperti, selimut, bantal, bed cover. "Tetapi saat ini, orang masih mengenal ikon kita adalah keset. Karena keset bisa dipasarkan secara massal dan ini yang kita pertanggungjawabkan karena melibatkan banyak orang," paparnya.Irma mengakui saat ini beberapa penyandang cacat di rumahnya sedang dididik agar tidak menjadi beban bagi masyarakat. Bahkan, ada penyandang cacat berat yang dinilai orang lain tidak bisa melakukan apa-apa yang menjadi anak didiknya. "Saya sebenarnya ingin tahu, sampai sebatas mana penyandang cacat yang paling berat bisa berusaha untuk dirinya sendiri. Karena itu saya berusaha memotivasinya untuk bisa melakukan sesuatu untuk dirinya," ucapnya yang sejak kecil mengalami kelumpuhan karena virus polio.Diakuinya, keinginan mendidik dan melatih penyandang cacat tumbuh karena tidak ingin mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain. "Saya kadang berpikir, seharusnya tugas pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada penyandang cacat. Tetapi, saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya, ini saya lakukan bukan saya mampu, tetapi karena saya mau," ujarnya.
Advertisement
Kisah Getun, meniti mimpi dengan jemari kaki
Suara merdu yang terekam video dalam telepon seluler buatan China itu, terdengar membahana dalam ruang tamu sebuah rumah di Desa Clapar RT 04/RW 02 Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Getun Tri Aena, begitu nama lengkap perempuan cilik pemilik suara merdu yang lahir 11 tahun silam. Getun terlahir istimewa. Gadis cilik ini tidak memiliki kedua tangan saat dilahirkan di rumahnya kala itu.Meski begitu, Getun menyadari hidup dalam keterbatasan fisik bukan perkara mudah untuk dijalani. Dengan mengandalkan kedua kaki dan bagian tubuh lainnya, dia berusaha mandiri dalam mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. "Setelah pulang sekolah, biasanya saya membantu ibu membereskan rumah," kata Getun saat ditemui beberapa waktu yang lalu.Segala pekerjaan rumah, mulai menyapu hingga memasak coba dilakoninya sendiri. Bahkan ibunda Getun, Sarinem mengungkapkan putrinya juga menggunakan pakaian dilakukannya tanpa bantuan orang lain. "Saya kaget waktu kali pertama melihat Getun ganti pakaian sendiri. Padahal, sebelumnya butuh bantuan orang lain,"kata Sarinem yang mendampingi Getun di rumahnya.Getun bagi Sarinem adalah anugerah yang tak ternilai. Anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Suwandi dan Sarinem ini, termasuk anak yang tak ingin menyusahkan orang lain. Bahkan, Sarinem mengakui, terkadang Getun juga mendapat perlakuan tak menyenangkan dari teman-teman sebayanya. "Kalau sudah seperti itu, biasanya Getun akan membalasnya dengan senyuman. Tapi, biasanya dia selalu ngomong kepada saya juga," jelas Sarinem.Secara ekonomi, kehidupan Getun juga tidak berkecukupan. Sang ayah, Suwandi, sehari-hari hanya bekerja mencari rumput dan menjaga pekarangan salak yang kecil. Sedangkan, sang ibu, sehari-hari harus bekerja menjajakan makanan kecil. "Kalau sehari paling penghasilan saya cuma Rp 15 ribu dan pas-pasan untuk makan saja," jelasnya.Meski demikian, Getun yang kini duduk di kelas V SD Negeri 1 Clapar, termasuk orang yang memiliki kemampuan dalam prestasi akademik dan bakat seni. Menurut Kepala SD Negeri 1 Clapar, Sujatmiko, sejak kelas 1 SD, Getun kerap mendapat rangking. "Kalau tidak rangking 1 ya rangking 2. Tetapi prestasi di bidang akademik itu terus menerus dipertahankan Getun hingga sekarang," ucapnya.Selain kemampuan akademik, Getun juga kerap mengisi acara seni di sekolahnya. Sujatmiko yang mengamati perkembangan Getun, kemudian menempatkan Getun sebagai pemain organ dalam grup rebana di sekolahnya. "Sejak dulu memang Getun suka bermusik dan bernyanyi, bahkan ia juga suka memainkan organ dengan jemari kakinya. Anak itu memiliki kemampuan yang baik dalam berkesenian," ujarnya.Menurut Sarinem sudah empat tahun ini, anaknya senang memainkan organ dan bernyanyi. Tak heran, jika Getun kerap diundang dalam beberapa acara untuk sekadar membantu meringankan beban ibunya. "Kalau ada kunjungan dari pejabat kabupaten ke sini, biasanya Getun sering menunjukkan kebolehannya," jelas Sarinem.Pun ternyata Getun memiliki cita-cita yang kini sedang dijalaninya. Ia ingin menjadi musisi dan bisa menunjukkan kebolehannya di hadapan orang banyak. "Saya ingin menjadi musisi kalau sudah besar nantinya," kata Getun.Diakuinya, saat ini Getun sangat menyukai penyanyi Fatin Sidqia Lubis yang beberapa waktu lalu menjadi X-Factor Indonesia, sebuah ajang pencari bakat di salah satu stasiun televisi swasta. Bahkan, dia sempat memamerkan video yang direkam ibunya saat membawakan lagu 'Aku Memilih Setia' yang dipopulerkan Fatin. Ia berharap, suatu hari bisa bertemu dengan Fathin. "Saya ingin sekali bisa bertemu Fatin," tuturnya.
Advertisement
Penyandang cacat melukis di kanvas 88 meter
Keterbatasan fisik tak menyurutkan Pak Wi melukis. Bahkan karena semangatnya itu, Pak Wi mampu melukis di atas kanvas sepanjang 88 meter.Pak Wi punya ambisi luar biasa. Ia saat itu melukis di atas kanvas sepanjang 88 meter dalam waktu 10 hari agar dapat memecahkan rekor MURI.Pak Wi adalah seorang penyandang disabilitas (skizofrenia). Nama lengkapnya adalah Dwi Putro.Ia menyelesaikan lukisannya di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Pak Wi melukis para tokoh perwayangan.Hasil karya Pak Wi bukan kacangan, goresan lukisannya sangat indah meski berburu waktu agar dapat memecahkan rekor MURI.Semangat Pak Wi memberikan pelajaran berharga. Di tengah keterbatasan, Pak Wi masih punya semangat hebat untuk memecahkan rekor MURI.