Puluhan relawan yang tergabung dalam Indonesian Railway Safety Care menggelar acara doa bersama terkait 40 hari berlalunya tragedi kecelakaan maut antara truk tangki pengangkut BBM dengan KRL di pintu perlintasan perempatan rel Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 9 Desember lalu. Akibat peristiwa itu, 7 orang meninggal dunia, di antaranya; Darman Prasetyo (masinis), Agus Suroto (asisten masinis), Sofyan Hadi (teknisi KA) serta 4 penumpang wanita lainnya.Direktur RailSafer Indonesia, Soegeng, menuturkan tragedi tersebut merupakan tamparan keras bagi PT KCJ di saat tengah membenahi keselamatan perkeretaapian dan penumpang."Kami berharap kecelakaan ini merupakan peristiwa yang terakhir," ujar Soegeng di lokasi, Sabtu (18/1).Soegeng menilai, peristiwa nahas tersebut merupakan buah dari ketidakdisiplinan para pengguna jalan saat melintas di perempatan rel Bintaro Permai.Pantauan merdeka.com di lokasi, perempatan rel Bintaro Permai masih dipadati pengendara roda dua maupun roda empat. Arus lalu lintas yang mengarah ke Bintaro maupun Tanah Kusir terlihat sangat padat dengan antrean kendaraan yang hendak melintas. Belum lagi kemacetan terurai tepat di atas rel, sirine tanda kereta api akan melintas berbunyi.Alhasil, para pengendara membunyikan klakson kendaraannya karena takut akan diseruduk kereta yang akan melintas. Salah satu pengendara roda empat, Anton mengeluhkan belum adanya perbaikan yang mumpuni terhadap jalur tersebut."Setelah kejadian paling ya ini jalannya memang sih ditambal dari lubang. Tapi tetap aja ini membahayakan," ujar Anton yang hendak menuju Tanah Kusir dari arah Bintaro tersebut.Kendati palang pintu perlintasan yang tampak sudah diperbaiki, namun sempitnya jalur masih kerap membuat pengendara kesulitan dan dihantui rasa takut datangnya kereta api yang akan melintas tiba-tiba.
Kenang tragedi Bintaro, puluhan orang gelar doa bersama
Tragedi tersebut merupakan tamparan keras bagi PT KCJ.
Advertisement
Rekomendasi